-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

3 Cara Memakai Kain Sarung Orang Minang Menentukan Status Perkawinan

Piamanexplore.com-Dulu penggunaan kain sarung di Minangkabau menentukan status perkawinan sesorang, apakah dia bujang atau gadis, apakah dia janda atau duda. Begini penjelasannya..

Orang minang atau suku minangkabau merupakan salah satu etnis budaya yang memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri.

Selain dari keunikan garis keturunan orang minangkabau yang menganut sistem matrilineal, ternyata masih banyak lagi keunikan khas dari budaya minang di Sumatera Barat ini, salah satunya yakni penggunaan kain sarung.

Kain sarung ataupun songket yang menjadi salah satu pakaian tradisional masyarakat Indonesia dan juga Sumatera Barat, ternyata bisa dijadikan lambang atau identitas yang menunjukkan status perkawinan orang minangkabau.

Dilansir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Sumatera Barat dalam wawancanya bersama tokoh budaya minangkabau, yakni Mak Katik mengungkapkan, bahwa posisi kepala kain sarung saat digunakan oleh orang minang tempo dulu memiliki makna tertentu.

Setidaknya terdapat tiga kategorisasi posisi kepala kain sarung atau songket yang melambangkan identitas atau status perkawinan orang minang tempo dulu, seperti apa yang disampaikan oleh Mak Katik.

Pertama, posisi kepala kain sarung atau songket mengarah kedepan. Menurut Mak Katik, posisi kepala kain sarung mengarah ke depan itu melambangkan bahwa orang minang tersebut belum menikah.

“Kalau perempuan jika kami laki-laki, jika perempuan belum berkawin itu kepala kain songketnya itu, kepala sarunganya ke surau atau ke masjid itu kedepan full,” ucap Mak Katik, di kutip dari kanal youtube BPNB Sumatera Barat.

Aturan tersebut berlaku untuk semua perempuan gadis maupun laki-laki bujang minangkabau saat itu. 

Mak Katik mengingatkan, bahwa hal tersebut berlaku meski umurnya sudah tua, yang penting belum menikah.

Kedua, posisi kepala kain sarung atau songket mengarah kebelakang. Menurut Mak Katik, untuk posisi kepala sarung atau songket mengarah kebelakang menandakan bahwa mereka telah menikah.

“Ketika dia sudah berkawin kepala kainnya ke belakang, boleh berat ke kiri boleh berat ke kanan atau boleh tepat kebelakang pas,” jelasnya.

Berdasarkan keterangannya, jika seseorang kepala kain sarungnya sudah kebelakang, maka orang minang dahulu sudah tidak akan menggangu orang itu lagi.

Ketiga, posisi kepala kain sarung setengah mengarah kedepan. Menurutnya posisi ini mencirikan orang-orang yang sudah menjadi janda ataupun duda.

“Ketika perempuan atau laki-laki sudah cerai, dalam istilah anak sekarang kami laki-laki ini ‘oto ndak bakandang’ atau perempuan ‘oto sudah mati pajak,’ itu kepala kainnya kedepan tapi sebelah, setengah atau terbagi dua,” sebutnya.

Dari penjelasan Mak Katik, inilah yang menggambarkan status perkawinan orang minang tempo dahulu. 

Sehingga menurutnya orang-orang minang tempo dahulu jauh dari kata perselingkuhan. Karena setiap orang telah dicirikan berdasarkan pakaiannya.

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...