-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Ukiran Rumah Gadang Dan Warisan Kearifan Lokal Minangkabau


Balai pelestarian nilai budaya provinsi Sumbar

Ukiran rumah gadang warisan budaya bergenre seni bila merujuk pada undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, merupakan bukti nyata dari masterpiece masyarakat minangkabau. Ukiran rumah gadang keberadaannya sekaligus menjadi bukti dari tetap pentingnya kearifan lokal (local wisdom) masyarakat matrilineal di sumatera barat di pelajari.

Melalui ragam motif ukiran yang terpahat eksotis menghiasi hampir seluruh bagian dindingnya yang bersifat tradisional sesungguhnya terekam peradapan leluhur. Seyogyanya hal tersebut perlu untuk tetap dilindungi dimanfaatkan serta dikembangkan bagi pemajuan kebudayaan masyarakat pemiliknya.

ukiran yang ada didinding rumah gadang
Ukiran rumah gadang minangkabau tentunya tidak datang secara tiba-tiba dalam kehidupan masyarakatnya. Azrial (1995) menyebut bahwa ukiran tradisional minangkabau adalah gambaran ragam hias timbul yang tercipta dari kreasi seni orang minangkabau dengan jalan mengorek bagian tertentu dari permukaan sebuah benda sehingga membentuk suatu kesatuan ragam hias yang indah dan harmoni. Secara umum ukiran tradisional tersebut dibuat dimedia kayu dengan menggunakan alat yang disebut pahat dan tentunya memakai tekhnik ukir yang bersifat khusus.

Pembuatan ukiran tradisional minangkabau dilakukan dalam beberapa tahap. Proses awalnya adalah menentukan ragam atau motif yang akan dibuat. Setelah ditentukan motifnya, langkah selanjutnya membuat pola motif ukiran pada kayu surian yang biasa digunakan sebagai media. Pembuatan pola motif ukiran bisa dengan cara menggambar motif pada kayu atau menjiplak dengan menggunakan cat semprot.

proses pembuatan ukiran
Proses selanjutnya adalah membuat ukiran dengan menggunakan pahat ukir. Tekhnik mengukir tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan. Pertama sekali membuat pahatan dasar, dimana bagian garis luar motif ukiran dipahat untuk membedakan bagian yang akan dibuang dengan bagian yang akan ditonjolkan.

Kemudian tahap mengukir secara dalam. Yaitu dengan membuang dasar kayu sehingga memberi kesan tinggi pada bagian ukiran yang ditonjolkan. Setelahnya bagian yang tertinggal adalah bagian motif yang disebut dengan corak ukir yang segera akan dibersihkan serta dihaluskan, kemudian diberi warna.

berbagai macam nama ukiran khas minang
Menukil pepatah alam takambang jadi guru, maka motif ukiran tradisional minangkabau di ilhami alam. Ragam motif ukiran biasanya terinspirasi dari tumbuhan, hewan atau benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-sehari. Demikian yang kemudian ada serta bertahan hingga sekarang, setiap motif ukiran yang dipahat pada rumah gadang menyiratkan khasanah serta makna budaya minangkabau yang unik, sekaligus merefleksikan pesan kearifan lokal bagi setiap penikmatnya.

3 motif ukiran yang kerap tampak menghiasi dinding rumah gadang minangkabau, yaitu motif ukiran itiak pulang patang, motif ukiran siriah gadang, dan motif ukiran pucuak rabuang.  

Motif ukiran itiak pulang patang senantiasa dikaitkan dengan cerita tentang itiak (bebek) yang tampak berjalan secara beriringan, terlihat seperti barisan yang rapi tanpa ada yang akan saling mendahului. ketika melewati pematang sawah rombongan itiak akan tampak berupaya mendaki secara perlahan dalam formasi yang tetap berpola.

motif itiak pulang patang
Pesan kearifan lokalnya adalah, masyarakat Minang mesti melakoni hidup secara teratur, tertip dan disiplin. Jalan kehidupan masyarakat Minang harus pula dilalui dengan hati-hati serta dengan mengupayakan terhindar nya setiap ketergesaan yang dapat merusak harmoni.

Disebut pulang patang, Gerombolan itiak konon belum akan pulang kandang selagi belum kenyang, biasanya akan tampak dalam perarakan panjang dikala hari sudah beranjak sore. Artinya apabila sudah kenyang itiak akan pulang dengan sendirinya, serta tidak terlihat adanya yang membawa bekal apapun.

Itiak ternyata meninggalkan sisa makanan yang ada dialam untuk memenuhi kebutuhan makan pula pada keesokan harinya. Pelajaran pentingnya adalah, masyarakat Minang tidak boleh rakus, karena yang diperlukan sesungguhnya adalah mengambil secukupnya sesuai kebutuhan.   

Motif Ukiran Siriah Gadang. Ragam motif yang sering dijumpai didinding rumah gadang Minangkabau. Siriah sering digunakan sebagai kelengkapan isi carano pada upacara adat. Idrus Hakimi Dt. Rajo pangulu (1994) menyebut dengan,

siriah gadang
siriah udang tampak hari, nan tampuaknyo bak kuku balam, gagangnyo bapantang putuih, buahnyo, buahnyo intan dengan podi, bungo lado basaluak batang, buah diambiak katinaman, daun diambiak ka kusuak mandi, usah karatak tirih tido, usah kalayua batambah iduik.  

Ungkapan tentang siriah ini mengajarkan masyarakat minang tentang keteguhan, keterbukaan , ketermanfaatan, keramah-tamahan serta pentingnya persatuan dan kesatuan dalam semangat berempati dan antar sesama.

Motif Ukiran Pucuak Rabuang motif ukiran tradisional minangkabau yang juga sering dijumpai dibagian tiang dan dinding rumah gadang. Rabuang (bambu muda) digemari oleh masyarakat Minangkabau untuk dijadikan olahan makanan. Terkait keberadaannya sebagai motif ukiran, pucuak rabuang sarat dengan nilai filosofi kehidupan. Pahatan motif yang mengarah keatas seperti akan menembus langit mengisyarakatkan bahwa masyarakat Minang harus memiliki tekad yang kuat umtuk mencapai cita-cita.

Tumbuhan bambu yang sejak kecil sampai tuanya tetap bermanfaat, ketika muda untuk bahan makanan sementara ketika tua dan lentur akan diolah menjadi berbagai bentuk peralatan sekaligus menyiratkan pesan kearifan bahwa masyarakat minang mesti menjalani hidup yang berguna bagi orang banyak.  

Ukiran rumah gadang Minangkabau, konon tempo dulu diwarnai dengan pilihan warna tumbuhan seperti pinang yang memberikan warna coklat kemerahan, warna kuning dari kunyit atau warna hijau dari daun komposisi motif ukiran Minangkabau pun mempunyai  bentuk yang relatif sama, yaitu adanya perpaduan antar garis lingkaran, segi empat, serta bentuk daun, buah, bunga tangkai dan ornamen lainnya.

Pola ukiran juga memiliki pengulangan dan selalu bersilangan. Komposisi artistik ini merefleksikan pesan kearifan dalam konteks kehidupan dalam masyarakat pesan kearifan dalam konteks kehidupan masyarakat Minang yang agamis, yaitu proses hidup yang mesti mampu menyadarkan pada keagungan yang maha kuasa, pencipta sekaligus pemelihara hidup dan kehidupan itu sendiri.

#RumahMinang

Share This Article :
1745663973787222366

Tragedi Besar Kecelakaan Kereta di Minang 1944 Dan Kebaikan Rahmah El Yunusiyah

Piamanexplore -Tragedi kecelakaan kereta api di Lembah Anai pada 25 Desember 1944 ialah tragedi kecelakaan yang terparah di Indonesia pada z...