-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Apakah Benar Nenek Moyang Orang Minang Berasal Dari Gunung Marapi?

 

gambar hanya ilustrasi
Banyak mitos yang berkembang di tengah masyarakat Sumbar perihal asal mula orang Minangkabau.

Konon mitos menyebut bahwa Orang Minang berasal dari balik Gunung Marapi, gunung yang terletak di Kabupaten Tanah Datar.

Gunung Marapi sendiri dipercaya menyimpan cerita legenda dan mitos yang diceritakan secara turun-temurun.

Mitos ini diceritakan oleh masyarakat Agam dan sekitarnya yang mana gunung itu dikenal punya nilai historis.

Dikutip dari berbagai sumber, berdasarkan Tambo bisa diketahui sejarah dari kisah asal usul nenek moyang orang Minangkabau.

Termasuk tentang asal-usul nenek moyang orang Minangkabau.

Selain itu fungsi Tambo adalah untuk menjelaskan tentang susunan ketentuan-ketentuan adat.

Tak hanya itu juga menjadi landasan budaya Minangkabau yang berlaku hingga saat ini.

Nah, dari Tambo ini diketahui nenek moyang orang Minangkabau berasal dari lereng Gunung Marapi.

Hal ini ditandai dengan munculnya Nagari Tuo Pariangan di Kabupaten Tanah Datar.

Desa adat itu juga disebut sebagai nagari tertua di Sumatera Barat.

Nagari Pariangan merupakan cikal bakal lahirnya sistem pemerintahan masyarakat berbasis nagari di Sumbar.

Keturunan Alexander Agung

Berdasarkan sejarah yang berkembang dipercaya Orang Minang berasal dari keturunan Alexander The Great (Alexander Agung).

Konon, beliau memiliki tiga orang anak, yaitu Sultan Maharaja Dipang (Sutan Maharajo Dipang), Sultan Maharaja Alif (Sutan Maharjo Alif), dan Sultan Maharaja Diraja (Sutan Maharajo Dirajo).

Pada tahun 356 sampai 323 sebelum Masehi, Alexander Agung ini memimpin Masedonia.

Raja Agung ini menguasai wilayah benua Ruhum. Setelah wafat, ketiga putera mahkota tersebut berlayar.

Mereka berlayar ke wilayah kekuasaan yang sudah ditentukan oleh raja Alexander Agung.

Salah satu dari tiga orang anaknya tetap tinggal di istana, yaitu Sultan Maharajo Alif.

Sultan Maharajo Depang diperintahkan menuju ke negeri Cina, sedangkan Sultan Maharajo Dirajo disuruh menuju ke arah Tenggara.

Setelah lama berlayar mengarungi lautan, Sultan Maharajo Dirajo melihat dari jauh sebuah pulau kecil sebesar telur itik.

Itulah Gunung Marapi sekarang. Kemudian, Sultan Maharajo Dirajo dan rombongan berlabuh di kaki Gunung Merapi itu.

Sultan Maharajo Dirajo dan rombongan menetap di Lereng Gunung Marapi.

Ketika air mulai surut, terlihatlah sedikit demi sedikit daratan yang luas.

Sultan Maharajo Dirajo memilih tempat yang baik untuk membangun tempat tinggal. Daerah itu diberi nama Nagari Tuo Pariangan.

Sejarah Luhak nan Tigo

Mitos dan cerita sejarah juga menyebut bahwa daerah Sumbar pernah mengalami banjir yang sangat besar.

Rombongan Sultan Maharajo Dirajo menumpangi perahu besar dan akhirnya terdampar di puncak Gunung Marapi untuk menyelamatkan diri.

Pada saat banjir surut, nampaklah di bawah kaki gunung adanya Luhak nan Tigo (3 cekungan daratan).

Rombongan kapal yang terdampar itu kemudian mulai menuruni tiga wilayah tersebut hingga beranak-pinak.

Itu lah kemudian yang menjadi penghuninya hingga kini.

Luhak nan Tigo yang sekarang diketahui seperti Luhak nan Tuo, yakni meliputi Wilayah Kabupaten Tanah Datar (Kota Batusangkar dan Padangpanjang).

Selanjutnya, Luhak nan Tengah yakni Wilayah Kabupaten Agam (Kota Bukittinggi).

Lalu Luhak nan Bungsu yang berada di Kabupaten Limapuluhkota (Kota Payakumbuh).

Legenda inilah yang diyakini sebagai cikal bakal lahirnya masyarakat Minangkabau yang memiliki adat istiadat budaya khas yang unik.

#piamanexplore

Share This Article :
1745663973787222366

Memahami Arti Nama Perkalian 2x11 Enam Lingkung di Kecamatan Padang Pariaman

Piamanexplore- Nama daerah di Indonesia tentu beraneka ragam. Penamaannya seringkali berdasarkan sejarah, adat, budaya, atau ciri khas wilay...