-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Sejarah Kuliner Tradisional Katupek Sari Kayo Khas Sumatera Barat

katupek dan sari kayo

Balai pelestarian nilai budaya provinsi sumatera barat

Katupek (ketupat ) salah satu makanan yang cukup terkenal di ranah Minang disamping makanan lainnya. Ketupat memiliki cita rasa tersendiri dan selalu tersedia di berbagai tempat.

Ketupat memiliki sejarah dan filosofi yang secara umum banyak orang yang belum mengetahui nya. Menurut salah satu sumber bahwa ketupat atau kupat merupakan simbol perayaan hari raya islam di jawa sejak masa pemerintahan demak pada awal abad ke 15.

Nama asal ketupat adalah kiblat papat limo pancer maknanya empat arah mata angin, satu pusat menuju gusti Allah. Empat arah mata angin ini adalah timur, barat, utara dan selatan. Demikian juga api, angin, air dan atanh semuanya kembali ke yang satu yaitu allah.

Sunan kalijaga memperkenalkan ketupat pada masyarakat jawa bahwa ketupat atau kupat kependekan dari ngaku lepat,  artinya mengakui kesalahan yang diwujudkan dalam tradisi sungkeman. Sedangkan laku papat atau empat tindakan artinya lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran bermakna usai atau berakhirnya waktu puasa. luberan artinya melimpah sebagai simbol ajaran bersedekah. Leburan artinya melebur dosa dengan saling memafkan dan laburan berasal dari kata labur atau kapur maksudnya menjaga kesucian lahir dan batin.

Melalui makanan ketupat sunan kalijaga bermaksud mengingatkan masyarakat agar selalu berbuat amal kebaikan, menjaga hubungan baik sesama manusia dan sang pencipta.

Persebaran ketupat berlangsung begitu cepat sehingga hampir disetiap daerah orang mengenal ketupat termasuk juga diranah minang. Orang minangkabau dialeknya yang sangat khas, ketupat dilafazkan katupek.

Katupek menjadi sajian khas orang minangkabau seperti masyarakat di nagari koto baru, kabupaten lima puluh kota. Katupek tersebut sangat khas karena terbuat dari beras ketan dan disertai makanan lain sebagai pelengkap sajian.

Cara Membuat Katupek

Proses membuat katupek diawali dari menganyam daun kelapa sebagai wadah merebus beras ketan. Daun kelapa yang digunakan biasanya yang muda berwarna kuning, wadah itu ddisebut dengan sarang katupek.

Anyaman sarang katupek yang tindih bertindih terlihat sulit membuatnya. Tetapi dipangkalan koto baru secara umum masyarakatnya pandai membuat sarang katupek setiap daerah akan berbeda-beda berdasarkan warisan dari leluhurnya.

katupek dengan tapai ketan hitam
Untuk menghasilkan katupek yang enak dan gurih memerlukan kepandaian khusus. Catra membuat katupek terlebih dahulu beras ketan di cuci bersih lalu direndam selama lebih kurang 2-3 jam, setelah itu dikeringkan.

Beras ketan dicampur pati santan dan garam secukupnya, diaduk rata lalu dimasukkan kedlam sarang katupek.

Pengisiannya tidak boleh penuh, 1/3 berbanding 1/3, artinya 2/3 bagian sarang katupek berisi beras dan 1/3 bagian kosong.setelah itu direbus bersama  santan sambil diaduk aduk hingga kering. Kemudian disinggang lagi agar lebih kering agar bisa tahan 2-3 hari.

Biasanya setelah masak menghasilkan katupek yang padat, enak gurih dan menarik untuk dihidangkan.

Katupek biasanya disajikan bersam dengan sari kayo atau tapai terbuat dari beras ketan hitam atau merah. Sari kayo adalah makanan seperti bubur rasanya manis dan legit terbuat dari gula aren (diserut) telur bebek atau ayam, bubuk rempah (kulit manis, cengkeh, buah pala) dan santan.

Perbandingan bahan telur dan santan sama takarannya. Biasanya menggunakan gelas kobokan atau wadah lain.

Telur yang telah dibuang kulit dimasukkan kedalam gelas (misalnya satu gelas berisi 5-6 buah telur) maka santannya juga 1 gelas. Sedangkan gula aren lebih kurang 1/2 kg atau menurut selera.

Untuk mengolah bahan digunakan bermacam-macam daun seperti daun sirih, serai, tebu, pandan, lalang, kincung, buluh dan sedikit irisan bawang merah.

Semua daun-daun itu dirajang, ditambah irisan bawang lalu digunakan untuk meremas telur hingga mengembang. Setelah itu didsaring tambah gula aren, santan, rempah dan sedikit garam diaduk-aduk hingga rata. Lalu dimasukkan dalam sebuah wadah dan dikukus.

Hal penting yang harus diperhatikan saat mengukus adalah air rebusan jangan terlalu banyak sehingga ketika mendidih tidak sampai masuk kedalam adonan.

Tutup kukusan harus dilapisi kain kasa agar uap air mendidih bisa diserap dan tidak menetes pada adonan. Setelah masak loyang dibiarkan di angin-anginkan sambil ditutup rapat (tidak terlalu lama) agar permukaan adonan rata dan terlihat licin.

Sedangkan tapai terbuat dari beras ketan prosesnya melalui permentasi, selama 2-3 hari. Membuat tapai juga ada kebiasaan berlaku yakni ketika meragi orangnya harus dalam keadaan suci atau bersih sebaiknya setelah berwudhu.

Katupek bukan makanan tunggal artinya ada makanan lain penyertanya yakni sari kayo atau tapai. Ini bukan berarti bahwa katupek tidak bisa dimakan tanpa makanan penyerta, tetapi sudah menjadi kebiasaan.

Ketupek termasuk makanan istimewa. Pada perayaan idul fitri hampir setiap rumah membuat katupek, disertai sari kayo atau tapai sebagai sajian atau disamping makanan lainnya.

Katupek sering dimakan bersamaan dengan sari kayo, maka sebutan katupek sari kayo menjadi populer bahkan menjadi makanan khas masyarakat nagari pangkalan koto baru.

Sebagai Buah Tangan Dalam Prosesi Adat

Katupek sari kayo sebagai buah tangan untuk hal yang sangat penting. Misalnya melihat anggota keluarga yang sakit, mengunjungi mamak pada hari baik bulan baik.

Selain itu juga sebagai makanan pambaoan dalam rangka memperbaiki hubungan yang mengalami masalah. Misalnya ada rang sumando yang sedang baganyie ( tidak pulang kerumah istrinya). Pihak keluarga perempuan mendatangi keluarga laki-laki untuk bersilaturahmi, menyelesaikan masalah dan saling memaafkan agar bersatu kembali.

Lebih penting lagi prosesi adat perkawinan, saat melamar katupek sari kayo juga sebagai pambaoan (bawaan) disamping sirih sebagai simbol adat. Begitu juga pada saat berlangsungnya perhelatan ada jamba juadah berisi aneka ragam makanan baik kue kering maupun kue basah termasuk juga katupek sari kayo dikenal oleh masyarakat pangkalan koto baru dari generasi kegenerasi.

Cara Penyajian Katupek Sari Kayo

Penyajian katupek sari kayo disertai piring kecil, sendok, kobokan, dan sarbet untuk mencuci tangan. Sebelum disajikan, anyaman katupek di potong-potong tetapi tidak lepas, sehingga mudah mebukanya.

Setelah dibuka sarangnya katupek diletakkan ke piring kemudian dituangkan sari kayo dimakan menggunakan sendok. Tetapi ada juga yang langsung dengan cara mencolekkan katupek ke sari kayo lalu dimakan.

Hal ini tergantung suasana pada acara resmi biasanya menggunakan sendok. 

#MakanankhasTradisionalSumbar  

 

    

   

 

 

 

 

Share This Article :
1745663973787222366

Memahami Arti Nama Perkalian 2x11 Enam Lingkung di Kecamatan Padang Pariaman

Piamanexplore- Nama daerah di Indonesia tentu beraneka ragam. Penamaannya seringkali berdasarkan sejarah, adat, budaya, atau ciri khas wilay...