-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Sikap Dan Rendah Hati Urang Minangkabau

gambar hanya ilustrasi
Dari Admint PUAMS

Tulisan ini bagus untuk dibaca

Orang Minang tak pernah berlebih-lebihan menghargai orang kaya, berpangkat atau nekad pemberani.

Bagi orang Minang, Kok Kayo, Kami Indak Mamintak, Kok Pandai Kami Tak Batanyo, Kok Bagak Kami Tak Ka Bacakak. Tapi kalau berbudi, kami segani.

Orang-orang Minang biasanya bermental Mandiri sikap Tidak Tergantung kepada Orang Lain adalah Prinsip.

Dengan sikap kemandiriannya itu orang Minang biasanya juga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Mereka berbaur dengan masyarakat dimana mereka bertempat tinggal.

Mereka bukan suku bangsa eksklusif.

Silakan cari di seluruh penjuru bumi, mana ada kampung Minang, padahal ada kampung Melayu, kampung Ambon, kampung Bugis, kampung Jawa, kampung Bali dan lain sebagainya.

Karena filosifis hidup mereka, dima bumi dipijak, disitu langik di junjuang, dima ayia disawuak, disitu rantiang di patah.

Jangan bicara sok hebat dengan masyarakat Minang yang sejak jaman baheula sudah berfikir jauh ke depan (out ward looking) dan jauh ke luar (out of the box). Ga usah merasa paling pintar, karena orang Minang yang berbasis surau itu, sejak dulu sudah banyak yang menguasai belasan bahasa.

Tan Malaka menguasai 14 bahasa, Agus Salim 13 bahasa dan sudah merantau, jauh ke mancanegara, sementara Republik ini saja belum ada.

Siapa pendiri kota Manila, bukankah Raja Sulaiman yang berdarah Minang, yang patungnya berdiri di Kota Manila.

Siapa pencipta lagu Nasional Singapore? Bukankah orang Minang?

Bagaimana raja-raja Minang dijemput untuk jadi raja di Malaysia di masa lalu.

Orang Minang mungkin ribuan jumlahnya yang bergelar doktor dan profesor, tapi mereka tidak menyakiti, mereka berbagi ilmu, mereka bertutur kata pantang menyinggung. Karena orang Minang paham betul, setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan.

Menurut orang Minang, tak ada kayu yang terbuang, kok pakak palatuih badia, kok buto pa ambuih lasuang, kok lumpuah pausia ayam itulah sikap profesional, karena manusia tidak tahu semua hal.

No body is perfect. Dan karena itu pula pula *tumbuh sikap rendah hati dan tawadhu' dan saling menghargai.

Sekarang, kaki lah ta langkahan, tapijak arang, hitam tapak, kata orang Minang, bila berat rasanya minta maaf, saya hanya berharap, cukuplah sampai di sini mencederai orang lain atau komunitas lain.

Kita ini sebagai manusia ada keterbatasan pengetahuan.

Janganlah lupa, betapa kakek nenek kita berandil besar dalam mendirikan negeri ini.

Ingat angku kita  Agus Salim, St. Sjahrir, Imam Bonjol, M. Natsir, Buya Hamka, Rahmah El Yunusiah, Rasuna Said, St. Moh Rasjid, Bung Hatta, Yamin, Adinegoro dan ratusan lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. 

#urangminanghebat

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...