-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Mengenal Mesikhat Payung Bertuah Dari Tanoh Alas Aceh Tenggara

Piamanexplore-Bagi masyarakat Alas, keberadaan payung tak hanya berfungsi sebagai simbol adat pada upacara-upacara perkawinan sunat rasul atau prosesi penyambutan tamu-tamu penting saja.

Lebih dari itu, mereka meyakini payung memiliki ‘tuah’ tersendiri yang sering dijadikan media untuk bernazar.

Di wilayah pesisir payung adat umumnya berwarna kuning terang dengan sulaman dari kasab atau manik-manik motif Aceh.

Di beberapa tempat seperti Aceh Barat dan Selatan ada juga payung yang berwarna merah.

Di Alas payung adat berwarna hitam dengan bordiran berasal dari warna-warna merah, kuning dan hijau yang disebut dengan payung mesikhat.

Uniknya, motif payung mesikhat tidak terbuat dari kasab atau pun manik-manik, melainkan dibordir dengan gambar-gambar khusus yang menceritakan perjalanan masyarakat Alas semasa lajang hingga selesai prosesi perkawinan.

Pembuat mesikhat tak boleh asalasalan, minimal mereka harus mengetahui budaya masyarakat Alas, dan memiliki ketelatenan serta kesabaran yang tinggi.

Karena sulit, di Alas tidak banyak yang bisa membuat payung tersebut.

Dari total 16 kecamatan yang ada di Aceh Tenggara para pembuat payung hanya tersebar di lima kecamatan saja yaitu Lawe Sumur, Lawe Alas, Badar, Bambel dan Tanah Alas.

Warna-warna yang dipakai pada payung ini adalah warna-warna yang melambangkan kebudayaan masyarakat Alas.

Seperti warna hitam yang merepresentasikan sikap rendah hati, warna merah melambangkan keberanian dalam menegakkan kebenaran.

Warna kuning bata sebagai simbol warna tanah yaitu asal usul manusia dan tempat kembalinya manusia.

Sedang hijau adalah simbol kesejukan dan kesuburan. Payung mesikhat hanya digunakan untuk acara-acara yang bersifat suka cita saja.

Selain yang sudah disebut di atas, payung ini juga dipakai pada acara pemberian nama anak dalam upacara mandi bayi yang pertama.

Biasanya proses pemandian bayi dilakukan di sungai, dalam perjalanan pulang pergi itulah si bayi dipayungi dengan mesikhat.

Payung ini juga sering dijadikan media untuk melepaskan nazar atau kaul. Sebagian masyarakat masih mempercayai jika keberadaan mesikhat memiliki berkah sendiri.

Tak heran jika ada anak kecil sakit atau ingin lulus test tertentu mereka akan bernazar pada payung tersebut.

 

Share This Article :
1745663973787222366

Tragedi Besar Kecelakaan Kereta di Minang 1944 Dan Kebaikan Rahmah El Yunusiyah

Piamanexplore -Tragedi kecelakaan kereta api di Lembah Anai pada 25 Desember 1944 ialah tragedi kecelakaan yang terparah di Indonesia pada z...