-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Pengantin Berkuda Beberapa Rangkaian Unik Pernikahan Masyarakat Alas Aceh Tenggara

foto twetter mutadi
Piamanexplore-Dalam budaya masyarakat Alas pernikahan adalah prosesi sakral yang ketentuannya harus diikuti oleh seluruh masyarakatnya.

Discover wisata aceh tenggara 

Terutama kedua calon mempelai pengantin yang akan menjadi raja dan ratu sehari.

Secara singkat, seluruh rangkaian prosesi ini dapat kita lihat dalam ilustrasi gambar yang terdapat di payung mesikhat.

Payung adat yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat di dataran tinggi tersebut.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung prosesi diawali dengan acara ngampeken.

Ngampeken yaitu prosesi di mana si calon mempelai wanita mengajak calon mempelai pria untuk menyembah kedua orang tuanya sebagai tanda hormat.

Saat ngampeken sambil menyembah ayahnya, si wanita meminta izin untuk dinikahkan dengan pria idamannya.

Setelah si perempuan selesai barulah diikuti sang pria untuk menyembah calon mertuanya.

Si pria biasanya ditemani oleh seorang teman prianya, dan seorang lagi tetua kampung yang akan menjadi perantara untuk pembicaraan selanjutnya.

Acara ngampeken ini disebut juga dengan midau hukum di mana setelah melihat calon menantunya orang tua calon mempelai perempuan akan memberi ijin bagi anaknya untuk dinikahkan dengan lelaki tersebut.

“Namun, bagi mereka yang dijodohkan oleh orang tua proses midau hukum ini tidak perlu dilakukan lagi.

Karena orang tua si perempuan sudah mengenal calon suami anaknya,” kata Dasiman, tokoh masyarakat Alas suatu ketika saat berbincang dengan penulis.

Setelah mendapatkan midau hukum, si pria pulang bersama temannya, yang tinggal hanya tetua adat dan orang tua pihak perempuan.

Mereka membicarakan kapan acara duduk beradat dilaksanakan.

Uniknya, sebelum selesai peradatan dilaksanakan keluarga pihak laki-laki wajib memberi makan calon istrinya sampai proses peradatan selesai.

Peradatan adalah rangkaian kegiatan yang berlangsung sampai hari pernikahan.

Di sini pihak lelaki harus membayar biaya-biaya yang sudah ditetapkan yang jumlahnya mencapai ratusan ribu kepada tokoh adat.

Uang tersebut digunakan untuk membeli sirih, tebus malu, administrasi mengurus surat nikah dan lain sebagainya.

Uang yang sudah diserahkan tidak bisa ditarik kembali seandainya mereka tidak jadi menikah.

Sehari sebelum acara nikah berlangsung, pihak laki-laki harus menyerahkan pinang mupakat yang terdiri dari 13 macam.

Pinang mupakat yaitu berupa uang kenduri dari 16 kaleng padi, satu ekor kambing, beras, beras ketan, ayam, kelapa, gula merah, gula putih, kopi, bumbu masak, rokok, korek api, dan minyak goreng.

“Yang 13 macam ini boleh diuangkan, tergantung kesepakatan antara ke dua belah pihak, tetapi kalau anak pertama harus diserahkan dalam bentuk barang,” kata Dasiman.

Bahan-bahan seserahan ini kemudian dimasak dan dihidangkan kepada tamu, kerabat dan handai taulan.

Selanjutnya adalah prosesi meraleng, yaitu mengarak calon suami ke kediaman calon istri untuk dinikahkan. Sambil diarak diiringi dengan musik-musik canang dari kaleng dan gong.

Calon pengantin laki-laki mengenakan baju adat berupa kemeja putih dilapisi jas hitam, bogok atau kalung, dan bulang balu berupa kain merah yang diikat ke kepala dengan kain bulang bidang, yaitu jalinan kain hitam.

Di bulang bidang diikatkan bunga dari aluminium berbentuk segitiga yang disebut bunga sari bulan. Calon pengantin dipayungi dengan payung mesikhat.

Setelah upacara pernikahan selesai dilakukan, keluarga pihak perempuan dikumpulkan di dalam rumah untuk ritual pamitan dari pengantin perempuan.

Yang paling terakhir adalah berpamitan kepada kedua orang tua, karena di sini pengantin perempuan akan menerima nasehat dari orang tua mereka sambil menangis.

Kemudian pengantin perempuan dipakaikan baju mesikhat, tondan atau sejenis rompi berwarna merah, iok atau gelang, cincin, kalung dan bunge sumbu warna warni di kepalanya.

Bila perempuan sudah selesai dihias, prosesi selanjutnya adalah jinto kude, atau mengantar pengantin perempuan ke kediaman laki-laki dengan menunggangi kuda.

Kuda dituntun oleh anak laki-laki sedangkan pengantin perempuan dipayungi dengan payung mesikhat oleh lelaki yang berpostur tinggi.

Untuk pengantin laki-laki, kuda tidak perlu dituntun karena ia bisa menunggang sendiri. Jadi hanya dipayungi saja.

Sebagaimana dituturkan Dasiman payung yang dipakai haruslah payung mesikhat, kalau ada yang menggunakan payung lain maka itu akan menjadi bahan omongan masyarakat kampung.

payung mesikhat
Kira-kira 50 meter sebelum sampai di kediaman pengantin laki-laki, sepasang suami istri yang masih muda menyambut dengan membawa tikar dan cerana.

Pengantin dituntun oleh pasangan tadi ke depan pintu rumah, tempat sang mertua menunggu menantunya untuk diminumkan santan bercampur gula.

Setelah diberi minuman santan kedua tangan mempelai kemudian disatukan, tangan pria di bawah dan tangan perempuan di atas, sambil ditepung tawari.

Simbol ini dimaksudkan agar kehidupan kedua mempelai langgeng sampai mereka tua.

Esok pagi dalam sebuah acara keluarga, pengantin perempuan memberi minum berupa air putih kepada ibu mertuanya.

Memberi minum sebagai ungkapan terimakasih dan simbol pelepas dahaga ibu mertua yang disebabkan oleh kelelahan setelah mempersiapkan acara pernikahan.

Kamudian pengantin perempuan pulang ke rumah orang tuanya ditemani rekan-rekan sejawatnya yang disusul oleh pengantin laki-laki pada sore harinya.

Share This Article :
1745663973787222366

Rekomendasi 3 Pantai Alami Baik Untuk Keluarga Berlibur Di Padang Pariaman

Piamanexplore- Pagi hari saat cuaca cerah dan hangat kebanyakan dari kita kerap merasa bosan dengan rutinitas sehari-hari dan ingin berlibur...