-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Maelo Pukek Kebiasaan Nelayan Di Minang Yang Malah Jadi Atraksi Wisata

foto tomi tanbijo
Piamanexplore-Suku Minang punya beragam budaya dan adat istiadat yang masih dipelihara hingga kini.

Salah satu budaya tersebut adalah maelo pukek, yaitu tradisi nelayan Minang untuk menangkap ikan menggunakan pukat atau jaring.

Selain merupakan tradisi nenek moyang, maelo pukek ternyata juga mengundang rasa penasaran wisatawan hingga menjadi atraksi wisata tersendiri.

Seperti apa jalannya tradisi turun-temurun masyarakat Minang tersebut? Simak informasinya berikut ini.

Apa Itu Maelo Pukek

Nelayan Minang telah mengenal tradisi maelo pukek sejak puluhan tahun silam.

Kata maelo dalam bahasa Minang berarti menarik, sedangkan pukek berarti pukat.

Maelo pukek dapat diartikan sebagai kegiatan menarik pukat atau jaring untuk menangkap ikan di laut.

Maelo pukek mengandung filosofi kerja sama dan gotong-royong, tercermin dari jalannya tradisi yang membutuhkan sekelompok orang berjumlah 10-15 orang.

Tradisi ini bertujuan untuk menunjukkan dan memperkuat kebersamaan, mempertahankan budaya, hingga membuka lapangan kerja bagi warga berusia 40 tahun ke atas atau yang tidak bisa pergi melaut.

Maelo pukek juga mengandung unsur berbagi pada sesama, yang tercermin dari pembagian rezeki atau hasil tangkapan ikan di antara para nelayan.

Proses Pelaksanaan Maelo Pukek

Proses maelo pukek biasanya membutuhkan waktu hingga dua jam, dan dalam satu hari bisa dilakukan beberapa kali proses tergantung cuaca.

Pada proses maelo pukek, jaring dibentangkan ke tengah laut dengan menggunakan kapal kecil yang bermesin.

Kemudian, 10-20 nelayan di pantai akan menarik dua utas tali yang terhubung dengan jaring hingga ke bibir pantai dengan kompak.

Tali pukatnya diikatkan di pinggang agar nelayan bisa menarik jaring dengan stabil.

Nelayan akan menarik jaring dalam posisi bergantian. Nelayan yang sudah sampai di posisi belakang akan maju ke barisan paling depan, begitu terus selanjutnya.

Hasil tangkapan ini kemudian dibagikan kepada nelayan yang menarik jaring, pemilik jaring, pemilik kapal, maupun nelayan lain yang ada di sekitar.

Maelo Pukek Jadi Daya Tarik Wisata

Tradisi yang awalnya bertujuan untuk menangkap ikan dan memperkuat persaudaraan ini ternyata malah menjadi atraksi wisata tersendiri.

Banyak pengunjung yang datang dengan rasa penasaran akan tradisi nelayan tersebut.

Pengunjung juga diperbolehkan untuk membantu nelayan menarik pukat sampai ke daratan dan membeli ikan-ikan segar yang baru saja ditangkap.

Makin lama makin banyak pengunjung yang datang ke kawasan pantai di Padang untuk menyaksikan jalannya tradisi maelo pukek sekaligus berbelanja ikan segar.

Agar tetap lestari, kawula muda diharapkan turut bergabung dan menyumbangkan ide-ide visioner terhadap tradisi ini, mengingat metode tradisional ini kalah efektif dari metode lain yang lebih modern.

Padahal, metode yang digunakan dalam tradisi maelo pukek adalah metode yang ramah lingkungan dan tidak merusak laut.

Itulah informasi mengenai tradisi maelo pukek dari Sumatera Barat, yaitu tradisi menangkap ikan menggunakan jaring yang memiliki nilai filosofis kerja sama dan gotong-royong.

 

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...