-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Singkarak Charter Gagalnya Pembentukan Negara Minangkabau Dan Rayuan Van Mook

Oleh : DR. Surya Suryadi

dr. M. Anas (supporter utama Van Mook dan BFO Sumatra Barat), Peristiwa Situjuah yang memilukan, dan nasib Tambiluak yang tragis.

DAN DIMANAKAH 'TESTAMEN'-nya TERSIMPAN KINI?

MUNGKIN tidak banyak sejarawan Sumatra Barat yang mengetahui dan pernah menulis secara mendalam  biografi dr. Mohamad Anas (sering pula ditulis Mr. M. Anas), terutama yang terkait dengan peran politiknya selama masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat. Di masa PDRI, dr. Mohamad Anas, yang tinggal di Payakumbuh (rumahnya dekat Gereja), dianggap sebagai orang NICA.

Audrey Kahin (2005 [versi terjemahan]:186) menyebut-nyebut nama dr. M. Anas sebagai salah seorang yang diculik oleh kelompok-kelompok nasionalis di Sumatra Barat yang anti Perjanjian Renville dan yang ingin mengkudeta pemerintahan Residen Rasyid. Peristiwa 3 Maret [1947] itu demikian sering disebut digerakkan oleh beberapa tokoh dari partai Islam dan Adat yang antara lain dipimpin oleh Saalah St. Mangkuto. Orang seperti dr. M. Anas yang disebut sebagai pegawai tiga zaman menjadi sasaran kebencian rakyat pasca Perjanjian Renville. Banyak di antara mereka yang dikait-kaitkan pula dengan "Singkarak Charter", yaitu rencana pendirian Negara Boneka Minangkabau oleh Belanda.

Ada pula yang mengait-ngaitkan dr. M. Anas dengan Peristiwa Situjuah (https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Situjuah) yang menewaskan 69 orang Republiken. (lihat: Sjamsir Djohary, Peristiwa Situdjuh (15 Djanuari 1949) [Skripsi IKIP Padang, 1971]). Ia dikait-kaitkan dengan Letnan Kamaluddin alias Tambiluak yang dituduh sebagai pengkhianat bangsa, yang membocorkan pertemuan pemimpin-pemimpin PDRI Wilayah Sumatera Tengah kepada pihak Belanda. Saksi-saksi mata mengatakan bahwa Tambiluak alias Kamaluddin, salah seorang mantan pemain sepakbola andalan dari Elftal Club Horizon, adalah seorang tukang cukur pada Sutan Karajaan Barbier di Payakumbuh yang salah seorang pelanggan setianya adalah dr. M. Anas. Namun, menurut Audrey Kahin (op cit.:219) tak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Tambiluak terlibat dalam pembocoran rapat rahasia para petinggi PDRI di Situjuah kepada Belanda. Senior saya, wartawan kawakan Sumatra Barat dan biografer Hasril Chaniago dalam beberapa kesempatan juga mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelusurannya (antara lain dengan mewawancarai para pejuang sezaman), tak ada bukti kuat bahwa Tambiluak sebagai pelaku pembocoran rapat di Situjuah itu. Ia adalah tumbal dari kebengisan revolusi.

Mohamad Anas lahir di Payakumbuh pada 10 September 1899. Namun, data yang kami ketahui mengenai biografinya juga masih fragmentaris. Fajar Rillah Vesky yang mewawancarai keluarga Mohamad Anas di Payakumbuh mengatakan bahwa dia dan istrinya berasal dari Kotogadang. Ibunya bernama Jamilah dan ayahnya berdarah Jawa, namanya Atmo Wisastro yang konon masih termasuk trah Sultan Hamengku Buwono 1. Di rumahnya di Payakumbuh pernah menginap Bung Hatta, Rosihan Anwar, dan Abdul Muis. Pengarang roman 'Salah Asuhan' itu adalah ipar kontan dr. M. Anas karena Muis mengawini kakaknya, Nuriah, yang mati muda. Salah seorang sahabat dr. M. Anas adalah Prof. Dr. Amir Hakim Usman, linguis Unand dan UNP yang meninggal tahun 2006.

Audrey Kahin dalam karyanya, 'Strugle for Indpendence: West Sumatra in the Indonesiaan national revolution 1945- 1950' (PhD thesis Cornell University, 1970:296), mencatat bahwa dr. M. Anas pernah mendapatkan training masalah kesehatan di Belanda. Yang jelas, dr. M. Anas dan istrinya, Djoeasa Anas, telah hijrah ke Belanda menyusul gagalnya aksi polisionil Belanda yang hendak merebut kembali Indonesia tahun 1947. Tampaknya, di Belanda dia punya seorang anak angkat yang bernama Nadia Anas. Tahun 1966 Nadia menikah di Den Haag dengan R. Budi Hartono yang keturunan Indonesia.

Banyak foto dan dokumen milik keluarga dr. M. Anas telah diserahkan ke KITLV Leiden. Foto ilustrasi ini saya peroleh dari keluarga dr. M. Anas di Jakarta (juga berapa foto lainnya dalam KMB di Den Haag, 1949). Sebelum foto-foto tentang dr. M. Anas sampai di Perpustakaan KITLV Leiden (yang kini sudah diakuisisi oleh Leiden University Library), foto-foto itu dikoleksi oleh Antiquariat Minerva, Den Haag.

dr. M. Anas adalah pendukung utama pembentukan Negara Minangkabau. Artinya, ia adalah penyokong Van Mook yang terkemukan di Sumatra Barat. Ini dapat dikesan dari laporan koran De Locomotief (Semarang) edisi 26 Juni 1949 tentang audiensi antara “Komite Dewan Perwakilan Padang” yang diketuai oleh dr. Anas dengan Wakil Tertinggi Mahkota Kerajaan Belanda (De Hooge Vertegenwoordiger van de Kroon, disingkat HVK) H.M.J. Lovink di Jakarta. Koran itu menulis:

"Padangs delegatie bij de HVK

Eind vorige week is een uit Padang afkomstige delegatie in audiĆ«ntie ontvangen bij de HVK, Z. Exc. Lovink. Zij bood namens het Komite Dewan Perwakilan Padang de op 25 Maart in een volksmeeting te Padang aangenomen resolutie aan de HVK aan. In deze resolutie wordt aangedrongen op de vorming van een Raad voor Padang en de Padangsche Benedenlanden. De delegatie bestond uit dr. Anas, dr. Hakim en de heer Gidi [Sidi?] Samsoeddin.”

HVK (De Hooge Vertegenwoordiger van de Kroon) dibentuk untuk menampung aspirasi-aspirasi yang muncul dari kelompok-kelompok yang masih menginginkan kehadiran Belanda di Indonesia menyusul agresi Belanda ke Indonesia setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tgl. 17 Agustus 1945. Sebagaimana sudah sama diketahui, menanggapi kehadiran kembali Belanda itu, masyarakat Indonesia terbelah antara kelompok-kelompok yang berada di belakang Soekarno yang menginginkan Indonesia 100% merdeka dan menghendaki Belanda enyah dari Indonesia di satu pihak dan kelompok-kelompok yang tetap menghendaki Indonesia berada di bawah perlindungan Belanda di pihak lain. Yang disebutkan terakhir ini adalah para pendukung BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) yang dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak yang menghendaki bentuk negara federal bagi Indonesia dan tetap berada di bawah payung ‘negara induk’ (Belanda).

Ketua HVK, his Excellentie Lovink dan istri, bertangkat ke Indonesia pada akhir Mei 1949 (lihat: Arnhemsche Courant, Arnhem, 31-05-1949) sebagai utusan Ratu Belanda guna mendekati dan berdialog dengan pihak-pihak yang masih tetap menginginkan kehadiran Belanda di Indonesia. Sesampainya di Jakarta pada awal Juni, HVK diresmikan dan Lovink dilantik sebagai ketuanya. Segera sesudah dilantik, ia mengadakan tur daerah untuk bertemu dengan para pendukung BFO, antara lain ke Pontianak dan beberapa daerah lainnya yang menjadi basis pendukung BFO (Nieuwe Courant, Surabaya, 02-06-1949).

Sebagai konsekuensi dari keputusan-keputusan yang disepakati dalam Perjanjian Roem-Roijen (ditandatangani tgl 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta), maka dilakukanlah penataan administrasi terhadap wilayah-wilayah Republik Indonesia dan yang masih dikuasai oleh Belanda di Jawa dan Sumatera. (Untuk wilayah Indonesia Timur praktis tidak mengalami banyak masalah karena mereka pada umumnya pro BFO). Untuk wilayah-wilayah yang masih dikuasai Belanda di Sumatera dan Jawa dibentuklah Territoriaal Bestuurs Adviseur (T.B.A.) yang dikepalai oleh orang Belanda, tapi pegawai-pegawainya kebanyakan orang Indonesia yang pro Belanda.

Berikut adalah nama-nama pejabat T.B.A. di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera: (1) Jawa Tengah (Dr. P. Angenent); (2) Jawa Timur (Ch. O. van der Plas); (3) Bantam, dengan kantor administrasi di Serang (N. Makkees); (4) Tapanuli, dengan kantor administrasi di Sibolga (F.P. Heekman); (5) Nieuw bezet gebied/Daerah pendudukan baru Sumatra Barat, dengan kantor administrasi di Padang (Dr. L.B. van Straten); (6) Nieuw bezet gebied Sumatra Timur yang meliputi daerah Asahan dan sebagian Bengkalis, dengan kantor administrasi di Rantau Prapat (W. Veenbas); (7) Nieuw bezet gebied Riau, yang meliputi wilayah Indragiri dan sebagian wilayah Bengkalis (Dr. J.C.C.H. van Waardenburg); (8] Nieuw bezet gebied Palembang, yang meliputi wilayah Pasemah dan Lubuk Linggau, dengan kantor administrasi di Palembang (Mr. H.J. Wijnmalen); (9) Jambi, dengan kantor administrasi di Jambi (Dr. J.J. van der Velde); (10) Distrik Lampung, dengan kantor administrasi di Teluk Betung (S.H. Pruvs; pejabat sementara); (11) Bengkulu/Bengkoeloen, dengan kantor administrasi di Bengkulu (J. Ch. Winterwerp) (Nieuwe Courant, 10-01-1949).

Rupanya orang Minangkabau juga ada yang pendukung BFO, seperti dr. Anas ini, meskipun dari segi jumlah kalah jauh dibandingkan dengan mereka yang pro kemerdekaan Indonesia sepenuhnya (mendukung Soekarno-Hatta). Akan tetapi, sebagaimana sudah dicatat oleh perjalanan sejarah, ide pembentukan NEGARA MINANGKABAU tidak mendapat sambutan baik di kalangan orang Minangkabau. Kebanyakan orang Minangkabau memilih "merdeka 100%" -- meminjam kata-kata Tan Malaka.

dr. M. Anas mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (22 Agustus – 4 November 1949). Dari afiliasi politiknya, jelaslah bahwa dia adalah anggota rombongan BFO yang dipimpin oleh Sultan Hamid 2 dari Pontianak, yang tetap menginginkan Indonesia berada di bawah naungan Kerajaan Belanda. Oleh sebab itulah, selepas KMB, dr. M. Anas tidak mau balik lagi ke Indonesia, karena dia mungkin berpikir masa depannya di sana tidak akan menentu menyusul makin menguatnya tuntutan rakyat Indonesia untuk sepenuhnya membebaskan diri secara politis dari penjajah Belanda. Jika dia tetap berada di Sumatra Barat, dia bisa 'hilang malam' dan lumat oleh eforia kaum Republiken yang sedang menggebu-bara. Apalagi RIS ternyata tidak bermumur panjang, karena Indonesia kembali ke Negara Kesatuan pada 19 Mei 1950.

Fajar Rillah Vesky mengatakan bahwa konon dr. M. Anas meninggalkan sebuah TERSTAMEN di Belanda, yang diminta jemput kepada kemenakannya, Dr. Johar. Sayang sekali Dr. Johar telah meninggal pula sebelum sempat menjemput testamen itu ke Belanda. Jika testamen itu memang ada dan dapat ditemukan, mungkin akan dapat diketahui kenapa dr. M. Anas memilih pro Belanda dan mungkin juga kisah Peristiwa Situjuah yang sampai kini masih kontroversial dan samar-samar itu akan dapat diungkapkan sepenuhnya.

Kisah hidup orang-orang Minang yang pro Belanda atau yang diasosiasikan/dituduh berafiliasi dengan Belanda, seperti dr. M. Anas ini, masih belum banyak terungkap dalam sejarah Minangkabau. Beberapa di antara mereka bernasib tragis dalam gejolak api revolusi yang menggemericikbungaapi, seperti Landjoemin Dt. Toemanggoeng yang kisahnya sudah diulas sedikit di laman fb hamba ini beberapa waktu lalu. Yang lain tergopoh-gopoh meninggalkan Minangkabau. Mungkin banyak juga yang bersembunyi diam (melakukan 'hibernasi') di 'bawah tanah' berbilang tahun lamanya...sampai ke anak-cucu mereka kini.  Orang-orang seperti dr. Hakim dan Gidi (Sidi) Samsoeddin tidak diketahui nasibnya sampai kini. Mereka memilih enyah sebelum dienyahkan. Tak ada lagi tempat untuk mereka dalam sorak sorai kemenangan kaum Republiken yang membahana memerahkan langit NUSANTARA (yang sebentar lagi konon akan menjadi ibukota baru RI).

Mr. dr. Mohamad Anas meninggal di ‘s-Gravenhage (Den Haag) pada 6 Januari 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum Oud Eik en Duinen, Den Haag. Nasib manusia tak ada yang tahu. Takdir hanyo dapek kito tapek'i, sabab lah tasurek sajak di rahim bundo.


Leiden, Selasa 18 Januari 2022

(* Kredit foto: Keluarga Herini Joesoef, Jakarta)

 

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...