-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Rohana Kuddus Srikandi Islam Wanita Minang Sahabat Pena R.A Kartini

Piamanexplore-Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Mengapa Kartini yang lebih dikenang padahal banyak perempuan Indonesia hebat lainnya.

Salah satunya karena Ibu Kartini  menuliskan ide dan pemikirannya  yang visioner tentang wanita Indonesia. 

Pemikiran yang beliau tulis sendiri, di waktu kedudukan wanita Indonesia di tengah masyarakat masih dipandang sebelah mata.

Berkat kemampuan literasi, yang menjadikan Ibu Kartini mendapat tempat istimewa wanita pelopor, perintis dan pembuka mata kaum wanita Indonesia.

Wanita Indonesia lain yang berjuang melalui penanya antara lain ada Rohana Kuddus, yang berasal dari Sumatera. Beliau lahir pada 20 Desember 1884 di lembang Ngarai Sianok Bukit Tinggi.

Ia adalah saudara tertua sebapak dengan Sutan Syahrir dan satu keturunan  dengan Haji Agus Salim. Ayahnya seorang Jaksa bernama Muhammad Rasjad gelar Maharaja Sutan.

Tidak seperti Kartini, Rohana tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, sejak usia  6 tahun ia belajar membaca dan menulis serta mengaji pada serorang istri Jaksa bernama Adiesa yang sudah mengangggap anaknya sendiri.

Rohana juga mendapatkan ketrampilan jahit dan bordir. Kerajinan bordir, ia dapatkan dari neneknya bernama Sini Tarimin yang terkenal sebagai ahli membordir dan pernah mendapatkan medali penghargaan dari pemerintah Belanda waktu itu.

Kemampuan membaca dan menulis, juga mengaji Quran serta ketrampilan jahit menjahit dan membordir ia ajarkan juga pada anak-anak di kampungnya hingga berdiri sekolah wanita pertama di Indonesia pada tahun 1892. Kartini baru memulai mengirim surat pada tahun 1900.

Dari pengalamannya sebagai guru, mulailah bibit keresahan bersemai di hatinya. Di masa itu kaum wanita seakan tak ada gunanya, ruang lingkup dibatasi adat dan agama yang sangat kolot.

Ia bertekad mendobrak segala halangan dan rintangan demi kemajuan kaumnya kaumnya. Pada 11 Februari 1911 berkat gagasannya, berdirilah sebuah perkumpulan wanita pertama di Indonesia bermana “Kerajinan Amei Setia (KAS)”.

Amei  ini artinya  wanita; Tujuan dari organisasi ini adalah memberi pelajaran membaca dan menulis baik latin maupun Arab setingkat  sekolah rakyat, memberi pendidikan rohani dan akhlak menurut ajaran agama, dan mengajarkan berbagai ketrampilan rumah tangga. 

Di tahun 1911,  karya bordirnya terpilih untuk dipamerkan di pameran international di Bussel Belgia . Rohana mendapat undangan untuk datang,  namun sayangnya ia tidak dapat hadir.

Ide dan pemikirannya tentang perempuan ia tuangkan dalam tulisan. Tulisan pertamanya ia kirim ke suratkabar Tjahaja Soematera di Padang. Syair-syair sastranya sering di muat di Oetoesan Melayu.

Cita-cita yang diperjuangkannya sama dengan yang terlukis pada surat-surat Kartini. Sama halnya seperti Kartini juga dibela oleh sahabat-sahabat Belandanya.

Ia juga pernah berkorespondensi dengan Kartini dan Dewi Sartika (tokoh pejuang perempuan dari Jawa Barat)

Melihat bakat menulisnya, pemimpin surat kabar Oetoesan Melajoe, Dt St. Maharadja mengajaknya menjadi redaktur surat kabar wanita pertama di Minangkabau (bahkan di Indonesia) yaitu surat kabar Soeting Melajoe.

Beliau adalah sebagai wartawati pertama, serta Surat Kabar Sunting Melayu, tercatat sebagai surat kabar wanita pertama yang pernah terbit di Indonesia.

Ketika usianya sudah lanjut, beliau masih suka menulis dan dikirim ke harian Keng Po, Sin Po, Pedoman sebelum koran-koran tersebut ditutup pada tahun lima puluhan.

Rohana Kuddus meninggal dunia dalam usia 88 tahun, tepatnya pada 16 Agustus 1972 di Jakarta.

Sumber: Kompas, 25 Sept. 1970 & Pelita, 9 Juli 1979. Koleksi Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI Salemba (Skala Team)

Share This Article :
1745663973787222366

Rekomendasi 3 Pantai Alami Baik Untuk Keluarga Berlibur Di Padang Pariaman

Piamanexplore- Pagi hari saat cuaca cerah dan hangat kebanyakan dari kita kerap merasa bosan dengan rutinitas sehari-hari dan ingin berlibur...