-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Kisah Pilu Pemilik Pemandian Di Lembah Anai Saat Banjir Bandang Sumbar

kolam pemandian alam damai kawasan lembah anai sebelum banjir bandang
Piamanexplore-Banjir bandang telah melanda lembah Anai dan menyebabkan banyak kerusakan dan kehancuran pada tempat-tempat usaha di kawasan tersebut.

Salah satu korban yang paling terkena dampaknya adalah pemilik sebuah pemandian. Ia harus menanggung kerugian besar dan kehilangan sumber pendapatannya.

Pada hari Sabtu, 11-5-2024, banjir bandang menerjang kawasan lembah Anai, Sumatera Barat. Air dengan cepat meluap dari sungai dan menerjang permukiman serta tempat-tempat usaha di daerah tersebut.

Beberapa rumah hanyut, tempat usaha hanyut jalan ambruk dan banyak kendaraan terendam air lumpur.

Salah satu tempat usaha yang langsung terkena dampaknya adalah sebuah pemandian yang dijalankan, Asrinal Kayo, pemilik Pemandian Mato Aia, sebuah kolam renang populer untuk anak-anak yang telah ia bangun sejak tahun 2000.

Pemandian ini telah menjadi sumber pendapatan utamanya selama puluhan tahun terakhir. Namun, saat banjir datang, pemandian tersebut hancur dan merusak semua fasilitas di dalamnya.

Kisah pilu Kayo bermula ketika ia terbangun oleh anaknya pada pukul 22.30 WIB, yang memberitahu bahwa air sungai telah naik hingga mencapai ambang pintu.

"Saya tidak pernah menduga bahwa air bah akan datang begitu cepat. Saya segera menyuruh anak saya naik ke bukit sementara saya menyelamatkan motor, satu-satunya harta yang bisa saya bawa," ucap Kayo.

Dalam hitungan menit, gelombang besar yang bercampur dengan lumpur dan kayu besar menghancurkan seluruh usahanya.

"Saya hanya bisa melihat usaha yang telah saya bangun selama 24 tahun ini hancur dalam sekejap," kata Kayo dengan mata berkaca-kaca.

Kerugian materi yang dialami Kayo tidak sedikit. Ia memperkirakan telah menginvestasikan sekitar Rp 2 miliar selama 24 tahun terakhir.

“Semua investasi itu hanyut. Televisi, lemari, dan uang tunai sekitar Rp 25 juta lenyap dibawa banjir,” ungkapnya.

Setelah banjir surut, Kayo kembali ke lokasi pemandian hanya untuk menemukan bahwa tidak ada apa-apa yang tersisa dari usahanya.

"Tempat pemandian Mato Aia sudah tidak ada lagi. Semuanya hanyut," ujar Kayo dengan suara lirih.

Banjir bandang ini tidak hanya merusak properti, tetapi juga melumpuhkan perekonomian Kayo. Dalam satu tahun terakhir, ia berhasil mendapatkan penghasilan sekitar Rp 25 juta per bulan dari usaha pemandian itu.

"Penghasilan tersebut belum termasuk retribusi yang saya bayarkan ke pemerintahan nagari atau desa," tambahnya.

Kini, Kayo berharap ada bantuan yang datang sehingga ia bisa memulai kembali dan membangun ulang kehidupannya.

"Saya tidak tahu harus mulai dari mana lagi. Saya berharap ada bantuan yang bisa membantu saya dan keluarga bangkit kembali," harap Kayo, mencari secercah harapan di tengah kehancuran.

Semoga Kisah pilu Asrinal Kayo memberikan kita pelajaran tentang alam, semoga asrinal kayo memiliki tekad, dan semangat juang kembali untuk membangun tempat usahanya lagi.

Walaupun ia harus menghadapi kesulitan dan kerugian besar, semoga Asrinal Kayo tidak menyerah dan terus berusaha untuk bangkit kembali.

Bagaimana dengan kita? Apa yang dapat kita pelajari dari kisah pilu ini?

Mari kita dukung semua para korban banjir bandang lainnya dengan cara yang dapat membantu mereka memulihkan keadaan dan meraih kembali masa depan yang lebih baik.

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...