-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Prosesi Dan Makna Dalam Acara Adat Menjemput Marapulai Di Perkawinan Pariaman

foto Al Fakri
Sumber Media Al Fakri

Piamanexplore-Adat perkawinan di Minangkabau termasuk di daerah Pariaman sebagai bagian berbudaya Melayu pasti mempunyai banyak kesamaan dengan daerah lainnya.

Di sini yang berbeda hanya penamaan prosesi, sedikit tradisi yang khas sebagai perwujudan nilai kearifan lokal masyarakat Pariaman.

Prosesi adat yang luhur penuh nilai budaya ini juga hampir mirip dengan daerah2 lain di Sumatera Barat.

Menjemput marapulai (pengantin laki-laki ) oleh kerabat pihak anak daro (mempelai wanita) dilakukan setelah akad nikah di dalam rumah,masjid atau gedung.

Untuk masa sekarang karena faktor efesiensi waktu, biaya biasanya setelah akad nikah kedua pengantin duduk bersanding dulu di pelaminan, baru sorenya diadakan acara adat menjemput marapulai ini.

Beberapa keharusan dalam acara ini serta perlengkapan yang harus ada pasti mempunyai makna adat dan nilai kearifan lokal yang luhur dalam hidup bersuku, berbangsa dalam kelembagaan adat Minangkabau.

Pesta yang ada di rumah pihak perempuan ditandai dengan adanya bendera marawa, juga ada payung kuning untuk penyambutan marapulai sebagai lambang kehormatan,

Untuk saat ini sudah dipakai dalam semua gelar di Pariaman, sidi,bagindo,sutan,tanpa melihat lagi hirarki status tertinggi.

Beberapa bagian adat dalam prosesi menjemput marapulai (pengantin laki-laki) oleh pihak kerabat anak daro (mempelai wanita)

1. Memayung

Memayung yaitu prosesi menyambut marapulai dengan payung kuning sebagai lambang keagungan yang datang, dengan titik pertemuan yang telah ditentukan.

Bisa di persimpangan luar rumah anak daro, atau rombongan marapulai dengan mobil bisa di titik yang telah disepakai kedua pihak.

Biasanya ini diiringi musik tradisi khas Pariaman bernama rombongan gendang tasa tambur,sekarang sudah dilakukan diwariskan kepada anak-anak usia sekolah SD- SMP.

2. Menyambut kedatangan calon marapulai dengan tari gelombang sebagai tari tradisi adat yang bermakna "parik paga dalam nagari"

yaitu tari ini bersumber dari silat tradisi melambangkan keamanan kampung mempelai wanita (anak daro) tetap aman dan melindungi tamu yang datang ke negeri mereka.

Ini biasa terjadi di kampung2 masa dahulu, untuk sekarang di kota2 tari gelombang sudah mulai ada yang meninggalkannya,

Ada dua bentuk penjagaan sebagai perlambang dari tari gelombang ini,

Yang pertama penghormatan melalui jalan ke kanan yang akan dilalui rombongan marapulai.

Yang kedua pertengahan jalan kedua barisan penari gelombang akan bertemu dengan pimpinan masing2 dan akan melakukan sedikit gerakan silat sebatas pertunjukan tradisi,

karena aliran silat harimau Minang sangat populer sejak dahulu di sini dan di wilayah Indonesia.

3. Sambah Manyambah/Berbalas Pantun

Prosesi penghormatan antara kedua belah pihak dengan cara sambah menyambah (berbalas pantun) sarat dengan petitih adat, kehalusan budi kedua belah pihak, melalui juru bicara yang ditunjuk oleh masing-masing pihak.

4. Prosesi penyambutan depan pintu, halaman rumah anak daro

Di sini marapulai disambut dengan tebaran beras kuning sambil menyampaikan kalimat yang halus petitih sebagai ungkapan selamat datang ke rombongan marapulai ke rumah anak daro seperti petitih "

“Naiak manapiak banda dan maningkek janjang”. Ini dilakukan dengan mencuci ujung kaki calon marapulai dengan  menuang sedikit air di ujung sepatu marapulai

Mencuci sepatu marapulai mempunyai lambang pesan simbolik bahwa marapulai/mempelai pria menapak masuk ke dalam rumah anak daro

melalui jajakan hamparan kain putih sebagai perlambang kesucian putih hati calon menantu dalam menjalankan perkawinan.

Di sini peran carano sangat penting sebagai simbol kemuliaan dari ninik mamak, mamak rumah, anak daro, kepada tamu yang datang.

Carano adalah bentuk wadah sirih pinang yang terbuat dari loyang dengan garis tengah 80 cm, tingginya 62 cm ditutup kain delamak (sarilamak)

dengan keindahan corak ibarat burung tiung akan terbang,elok seperti elang hinggap,ukiran motif pucuk rebung diikat megah ( mego) beralaskan kain rumin.

Isi dari sirih lengkap adalah bahan untuk makan sirih yaitu pinang, sadah, gambir,tembakau.

Dalam carano ini tersimpan pesan adat semua yang terbaik dimiliki pihak mempelai wanita/anak daro dipersembahkan kepada pihak marapulai.

Dalam prosesi ini terhimpun kerabat dekat dari mempelai wanita dengan induk bako,mande/ bibi, pasumandan,untuk meyambut marapulai ini.

Ada 3 syarat wajib mempelai wanita dalam menjemput marapulai

1. sirih langkok/ lengkap dalam carano sebagai barang sakral dalam adat Minang.

2. Pakaian pengantin marapulai lengkap dari tutup kepala sampai ke atas kaki yang akan dipakai ke mempelai pria,

3. Nasi kuning singgang ayam,lauk pauk dan buah-buahan.

inilah beberapa deretan prosesi adat menjemput marapulai di pesta perkawinan adat pariaman.

untuk segala kekurangannya admin minta maaf.

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...