-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Cinta Bertahan Saat Segala Hal Memaksa Untuk Pasrah: Kisah Pasutri Saat Banjir Bandang

Pasutri Mefrianto (45) dan istrinya Efri Syaputri (39)
Piamanexplore-Banjir adalah bencana yang sering dialami oleh banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Banjir bisa mematikan dan menghancurkan, baik secara fisik maupun emosional. Namun, cerita seorang pasangan suami istri yang bertahan saat banjir bandang datang,

Kisah ini menunjukkan kekuatan cinta, harapan, dan tekad untuk melalui masa-masa sulit.

Kisah ini terjadi pada pasangan suami isrti dari Jorong Tigobatur, Nagari Parambahan, Kecamatan Limakaum. Mereka selamat setelah bertahan di atas batang pohon pokat.

Banjir bandang yang melanda Sumbar beberapa waktu lalu bisa menjadi bencana tak terduga bagi banyak orang.

Segalanya bisa memburuk dalam hitungan detik, bahkan bagi pasangan yang bahagia dan serasi. Namun, kisah tentang satu pasangan suami istri di dalam banjir yang sama, membuktikan betapa besar kekuatan kebersamaan dan cinta.

Cerita ini telah di publish di padek.jawapos.com

Di sebuah warung di Jorong Tigobatur, yang terletak di antara jalan raya dan Batang Lona, empat orang tengah duduk santai sembari bercerita sekira pukul 20.30 WIB.

Dua di antaranya adalah sepasang suami istri pemilik kedai, Mufrianto, 45, dan Efri Syaputri, 39. Sedangkan dua lainnya adalah pembeli. Satu di antaranya Jhoni Fermeng, 44.

Setelah beberapa saat hujan, satu pembeli kembali pulang. Sedangkan pasutri masih tetap di warung mereka sambil bercerita.

Sang istri memilih berbaring di kamar yang ada di warung itu. Tidak berselang lama listrik di kawasan itu padam.

Tak lama setelah itu, dari arah atas terdengar teriakan jika air Batang Lona naik sampai ke jalan.

Dan benar saja Mufrianto dan Jhon langsung merasakan air telah masuk ke dalam kedai, keduanya reflek lari menyelamatkan diri ke arah seberang jalan.

Tinggi air sudah sepinggang. Menjelang sampai sebuah simpang yang ada di seberang warang, Mufrianto sempat terseret air.

Namun berhasil memegang pagar rumah warga. Dan berhasil naik ke simpang jalan.

Saat itulah, temannya Jhon mengatakan jika istrinya ternyata masih tertinggal di kedai, setelah diperhatikannya dengan bermodalkan senter yang sempat dibawanya, ternyata benar saja istrinya terlihat melambaikan tangan.

 

”Jadi sebenarnya arus air datang dua kali. Pada arus pertama itu saya sempat lari, kemudian berhenti sebentar. Saat berhenti itu saya langsung lari kembali ke warung.

Sedangkan teman saya menunggu di seberang,” terang Mufrianto saat dijumpai di rumah mertuanya, Senin (20/5) sore.

Saat kembali warung itulah, arus air kedua datang. Ternyata saat lari itu, ada sebuah mobil hanyut ke arah warungnya dan menghalangi sang istri untuk keluar.

Namun, saat itu sang istri masih sempat menyelamatkan seorang warga lain yang hanyut. Yang saat itu dibawa arus luapan ke bawah mobil.

Dia berhasil menyelamatkan warga itu dengan memegang tangannya. Kemudian warga itu langsung memyelamatkan diri.

Saat ingin membawa istrinya ke seberang jalan yang berjarak sekira lebih kurang 15 meter, arus air tiba-tiba kembali naik dan deras menghanyutkan berbagai material, termasuk mobil yang sebelumnya menghalangi pintu kedai.

”Karena situasi sudah makin runyam, saya bersama istri naik ke atas kepala mobil itu. Hingga mobil itu tersandar di Batang Pokat yang ada di sebelah warung kami itu,” terangnya.

Saat tersandar, dengan cepat Mufrianto menyuruh istrinya segera naik ke atas pohon pokat. Setelah istri naik, dia juga ikut naik.

Baru saja kakinya terlepas dari atap kepala mobil, kendaraan itu langsung diseret arus dan menuju arus sungai.

”Karena basah dan berat, saya kemudian lepaskan celana karena takut licin saat bergantung di pohon pokat itu,” ujarnya sambil menunjukan pohon pokat posisi dia berada.

Saat di atas pohon pokat itu, pasutri ini sudah pasrah. Namun tetap berdoa diberikan pertolongan.

Selama berada lebih kurang 1,5 jam bertahan di pohon yang ternyata ditanam oleh mertua Mefrianto, banyak sekali yang dilihatnya.

”Beberapa rumah yang sederetan kedai kami mulai dihanyutkan galodo. Saya sempat melihat senter hanyut dan masuk ke dalam batang air dari rumah sebelah.

Bahkan kami sempat melihat dua orang ikut hanyut, tapi tak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya.

Suasana semakin mencekam setelah kayu gelondongan berukuran besar ikut hanyut dan menubruk beberapa rumah termasuk batang pokat tempat mereka bertahan.

Saat itu, batang pokat itu goyang, mereka pun pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Yangmaha Kuasa.

”Terakhir kayu itu menghantam kedai yang ada di sebelah bawah batang pokat, dan kedai itu hanyut tanpa bekas,” ujarnya mengenang.

Selama berada di atas pohon, temannya Jhoni Fermeng tetap menunggunya di seberang jalan. Mefrianto terus memberikan sinyal kepada Jhoni dengan cahaya senter yang berhasil dibawanya.

”Selama itu kami tidak bisa bersuara, hanya senter saja yang saya pakai untuk memberikan tanda. Termasuk melihat kondisi air dan yang turut dihanyutkannya,” katanya.

Selama berada di pohon itu, dia terus memperhatikan rumah mertuanya. Di mana ada dua anak nya di rumah itu. Beruntung rumah mertuanya bertingkat.

Mertua dan dua anaknya menyelamatkan diri. Sedangkan di ruangan bawah, air telah masuk.

”Sudah semua rasa, takut, cemas, sedih, sudah bercampur rasa kami. Kami sudah sepakat pasrah apapun yang terjadi,” sebutnya.

Setelah bertahan selama 1,5 jam di atas pohon, air luapan yang meluluhlantakan perkampungan itu mulai surut.

Air kembali masuk ke dalam sungai, yang tersisa lumpur, material kayu besar, kendaraan, dan material yang dihanyutkan.

Setelah memastikan kondisi aman, teman Mefrianto yakni Jhoni langsung mengecek kondisi di sekitaran area.

Setelah dipastikan aman, mereka perlahan-lahan turun dan menyeberangi jalan penuh lumpur setinggi pinggang orang dewasa.

Saat itulah, Jhoni seakan tidak percaya jika pasutri itu berhasil selamat dengan bertahan di atas pohon pokat yang tidak begitu besar.

”Saat berada di atas pohon itu tidak ada suara lain selain suara air, tidak terdengar suara manusia karena semua sudah berlarian memyelamatkan diri. Hanya kami bertiga yang tersisa,” ujarnya.

Kisah pasangan ini menunjukkan bagaimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan yang tak terduga di tengah masa-masa sulit.

Banjir bandang mungkin menghancurkan banyak hal, tapi tidak dengan cinta yang kuat dan kebersamaan yang membuat kita merasakan bahagia dan berdaya.

Selalu ada harapan meskipun situasi terlihat sulit. Kita hanya perlu tetap yakin dengan diri kita sendiri dan mendukung pasangan kita dengan sepenuh hati.

 

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...