-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Kumpulan Wisata Legenda Yang Terkenal Dari Kisah Rakyat Sumatera Barat

Piamanexplore.com-Sudah bukan rahasia lagi jika Provinsi Sumatera Barat terkenal dengan pesona alam, kuliner, dan ragam budaya yang menarik untuk diulas.

Salah satu yang menarik diulas yakni tempat wisata alam legenda yang konon katanya terjadi dari cerita rakyat setempat.

Konon katanya, beberapa tempat wisata legenda di Sumatera Barat tercipta dari cerita rakyat masa lalu.

Dilansir dari channel YouTube Creative Hamdi, berikut lima tempat wisata legenda di Sumatera Barat yang tercipta dari cerita rakyat masa lampau.

1. Danau Maninjau

Konon, Danau Maninjau terbentuk dari legenda bujang sembilan yang mengisahkan cerita sepuluh bersaudara kakak beradik yang terdiri atas sembilan bujang dan seorang gadis.

Berdasarkan cerita turun temurun, ada seorang gadis menjalin kasih dengan pemuda bernama Sigiran, yang berujung dengan munculnya fitnah dari ke sembilan bujang.

Sembilan bujang tersebut menuduh bahwa hubungan yang terjadi antara keduanya telah melampaui batas normal norma di masyarakat.

Dituduh demikian, sang gadis beserta kekasihnya kemudian bersumpah akan melompat ke kawah Gunung Tinjau atau Sitinjau.

Mereka melakukan hal tersebut bertujuan untuk membuktikan kesucian bahwa tuduhan yang dilayangkan tidaklah benar.

Namun, sebelum melompat, mereka dengan lantang mengatakan bahwa apabila tuduhan tersebut benar adanya, maka gunung tersebut tidak bakal meletus.

Sebaliknya, apabila tuduhan itu meleset, maka gunung tersebut akan meletus.

Pada akhirnya, mereka dapat membuktikan bahwa tuduhan itu tidaklah benar karena akhirnya Gunung Sitinjau meletus dan membuktikan bahwa keduanya tidak seperti apa yang dituduhkan.

Dari letusan gunung itulah, maka terbentuklah sebuah danau yang saat ini dikenal sebagai Danau Maninjau.

2. Danau Singkarak

Ternyata Danau Singkarak juga memiliki cerita legenda yang bermula dari kehidupan keluarga Pak Buyung bersama istrinya serta putranya bernama Indra di Minangkabau.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya Indra konon tumbuh menjadi anak rajin dan berbakti yang memiliki ayam peliharaan yang diberi nama Taduang.

Taduang ini kerap menyambut Indra dengan berkokok ketika dia pulang dari hutan.

Namun, konon katanya, Indra memiliki satu kekurangan yakni selera makannya yang sangat berlebihan. Dalam sekali makan, dia bisa menghabiskan setengah bakul nasi dan beberapa piring lauk.

Kebiasaan Indra ini menjadi masalah pada saat musim paceklik tiba, yang tentunya membuat keluarga Indra semakin kesulitan mencari makan.

Lantaran terlalu banyak makan, sang ayah lantas menyuruh anak laki-lakinya tersbut untuk mencari makan sendiri di luar.

Pemuda itu sudah berusaha untuk mencari makan dengan cara melaut, namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Hingga pada suatu malam ketika dia terbagun, dirinya melihat kedua orang tuanya ketiduran karena kekenyangan.

Sontak, Indra pun sedih karena tidak diajak makan, padahal Indra sangat lapar.

Pada saat dia menceritakan kisah sedihnya pada Taduang di sebuah batu besar, ayam tersebut berkokok dan tiba-tiba dan membawa Indra hingga batu besarnya pun ikut terbang.

Makin tinggi ayam itu terbang, terjadi hal yang aneh yakni batu tersebut makin membesar.

Melihat Taduang yang semakin tidak kuat lagi, Indra pun menghentakakan kakinya hingga batu tersebut jatuh menghantam bukit di sekitar lautan.

Batu tersebut lantas membentuk lubang panjang dan dengan cepat air dari laut menyusut memenuhi lubang dan alirannya membentuk sungai.

Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Danau Singkarak. Sedangkan keberadaan Indra dan Taduang tidak diketahui.

3. Batu Malin Kundang

Batu yang menyerupai manusia ini dikaitkan dengan legenda Malin Kundang menjadi cerita legenda paling populer di Sumatera Barat.

Batu tersebut diklaim sebagai batu kutukan Malin Kundang di pantai Air Manis Padang Sumatera Barat.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Malin Kundang dikisahkan sebagai anak yang durhaka kepada ibunya.

Konon katanya, Malin Kundang merupakan seorang pria miskin yang tak punya apa-apa. Dia lalu memutuskan untuk merantau.

Ketika sudah sukses, Malin Kundang pulang ke kampung halamannya. Namun, jiwa sombong yang ada pada dirinya, membuat dia tak mengakui bahwa wanita tua yang dia temui adalah sang ibu yang telah lama menanti kepulangannya.

Malin Kudang merasa malu memiliki ibu tua yang miskin. Terlebih, dia memiliki istri cantik dan mertua kaya raya.

Malin Kundang pun menghardik wanita tua itu. Lantaran tidak terima diperlakukan kasar oleh anaknya sendiri, snag ibu pun mengadu pada Tuhan dan memintanya untuk memberi pelajaran pada Malin Kundang.

Di tengah lautan, tiba-tiba saja terjadi badai dan membuat kapal yang ditumpangi Malin Kundang terbalik dan dirinya berubah jadi batu.

Batu Malin Kundang itu berada di tepi pantai Air Manis yang hingga kini dikenal dengan sebutan Batu Malin Kundang.

4. Sungai Janiah

Sungai Janiah merupakan tempat wisata legenda yang berada di Nagari Tabek Panjang, yakni Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Lokasi Sungai Janiah berada sekitar 3,5 kilometer dari simpang sebelum pasar Baso atau tepatnya di tepi jalan raya Bukuttinggi menuju Payakumbuh dan sekitar 30 kilometer dari Batu Nan Limo.

Konon katanya, ikan sakti itu berasal dari seorang anak balita yang menghilang dari orang tuanya saat membuka ladang di perbukitan di sekitar kolam ikan sakti.

Diyakini, lokasi tempat wisata legenda ini tepatnya persis berada di depan masjid perkampungan sungai Janiah.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, bahwa balita itu hilang ketika orang tuanya sedang asyik mencangkul di ladang mereka.

Mereka pun mencari keberadaan bayi yang tiba-tiba hilang di sekitar kawasan ladang tersebut.

Namun, hingga hitungan bulan, sang anak tidak kunjung ditemukan. Hingga suatu ketika, warga dikejutkan dengan peristiwa aneh dengan kemunculan seekor ikan di kolam tak jauh dari lokasi.

Anak itu seakan-akan minta makanan. Entah siapa yang memberikan informasi pertama, bahwa ikan yang minta makan itu diduga adalah balita yang hilang.

5. Danau Kembar

Konon, Danau Kembar ini terjadi dari sebuah kisah seorang nenek tua bernama Niniak Gadang Bahan.

Niniak Gadang Bahan sendiri sehari-hari bekerja sebagai pembuat papan atau tonggak.

Pada suatu ketika, saat nenek ini pergi mencari kayu di hutan, dia bertemu dengan seekor makhluk yang begitu besar.

Saking besarnya makhluk tersebut, sang nenek tidak bisa melewati hutan. Kemudian, Niniak Gadang Bahan pun berusaha untuk membangunkan makhluk besar yang menghalangi jalannya menuju hutan.

Namun, makhluk tersebut ternyata seekor naga yang sangat besar. Lantaran merasa terusik, naga itu melawan nenek dan sang nenek pun berkata bahwa lawan tidak dicari namun jika bertemu pantang mengelak.

Saat keduanya berkelahi, Niniak Gadang Bahan yang memiliki kapak besar tidak merasa takut untuk melawan naga tersebut.

Naga pun tidak bisa mengelak sabetan dari kapak sang nenek dilemparkan padanya.

Darah naga pun bercucuran bahkan kepalanya pun hampir putus, sehingga naga akhirnya menyerah.

Setelah beberapa lama, Niniak Gadang Bahan kaget karena ternyata naga itu tidak mati. Dia lantas menidurkan tubuhnya menyerupai angka delapan.

Darah naga yang mengalir begitu deras membuat merah wilayah tersebut. Sontak, masyarakat pun memadati kawasan ini.

idak lama kemudian, badan naga itu tertimbun bebatuan dan membuat genangan air yang semakin lama makin membesar menyerupai danau.

Hingga saat ini, danau tersebut dinamakan danau di atas dan danau di bawah, dan tidak jauh dari daerah ini ada sebuah kawasan air merah.

Konon, air berwarna merah tersebut dipercaya sebagai darah naga yang terus mengalir karena makhluk itu tidak mati.

 

Share This Article :
1745663973787222366

Makam Syekh Balinduang: Jejak Sejarah Warisan Kultural di Sungai Limau Padang Pariaman

Piamanexplore- Makam Syekh Balinduang adalah salah satu situs yang memiliki sejarah di nagari pilubang kecamatan sungai limau kabupaten pada...