-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Cicipi Durian Madu Racun Khas Dari Solok Sumbar

Durian di kabupaten solok kerap dianggap sebagai komoditim kelas dua dibawah beras, kopi dan tanaman holtikultura lainnya. Namun secara potensi tidak kalah dibandingkan komoditi-komoditi tersebut.

Jika menyebut solok, yang terlintas di benak sudah pasti beras, ya daerah berkontur  pegunungan tersebut sangat lekat dengan beras solok yng termasyur itu. Selain itu di kawasan ketinggian komoditi holtikultura menjadi primadona.

Wajar saja jika komoditi itu menjadi unggulan di solok  dan menjadi jualan utama daerah selain pariwisata. Meskipun demikian, dianugerahi tanah yang subur hampir semua komoditi memiliki potensi untuk berkembang di solok.

Salah satunya durian saat musim durian tiba saat seperti ini lapak-lapak dadakan penjual durian kerap bermunculan. Kususnya di sepanjang jalan  kecamatan kubung dan IX koto sungai lasi, terlihat puluhan pedagang durian, mulaim pondok kecil yang di buat di depan rumah hingga yang berjualan dengan mobil.

Yusara warga nagari guguak sarai sungailasi rutin menjual durian setiap kali musim durian kebanyakan durian yang ia jual yakni berasal dari sungailasi dan selayo dfan ada yang ia pesan dari luar daerah.

Untuk harga durian ia menjual sesuai ukuran besar kecilnya. Rata-rata durian yang ia jual berkisar dari Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu tergantung ukurannya. Menurutnya, yang paling mahal itu durian khas solok yakni durian madu dan durian racun, yang paling besar bahkan bisa ia jual Rp 45 ribu.

Kemudian pedagang lainnya di depan pasar raya solok seprio mengatakan saat ini permintaan terhadap durian memang cukup tinggi, dalam sehari ia bisa menjual 50 hingga 100 buah durian. Banyak yang meminta durian madu dan durian matahari dari selayo dan sungailasi, karena dagingnya tebal dan manis.

Masih dikelola secara tradisional

Meskipun memiliki potensi kebanyakan tanaman durian masih dikelola secara tradisional, karena sifatnya yang musiman. Walaupun demikian ada juga yang mengelola sesuai penelitian badan terkait.

Petani pemilik 40 hektar kebun durian dari nagari selayo, kecamatan kubung, anjung mengatakan saat ini ada 3 jenis durian yang ditanam di kebunnya. Yakni jenis madu, jenis racun, dan bango ketiganya di klaim sebagai jenis durian lokal solok yang biasa ditanam di kawasan IX koto sungailasi.

Menurutnya ketiga jenis itu sangat cocok ditanam di daerah ketinggian300-500 dari atas permukaan laut namun tentu perlu penanganan lebih ekstra agar kualitas buah makin baik.

Awalnya ia menanam durian sebagai pohon pelindung di kebunnya, tapi dengan semakin kuatnya potensi penjualan durian ia kemudian memaksimalkan pengelolaan terhadap batang durian yang ada, bagaimana agar durian tersebut berkualitas.

Lalu ia berkonsultasi dengan balitbu sumani. Selama ini solok juga sudah terkenal dengan duriannya, namun belum di maksimalkan, jadi saya mencoba mengelola durian ini dengan cara yang dianjurkan oleh balitbu sumani”, ungakpnya.

Panen perdana durian miliknya yakni tahun 2019 saat ini lebih dari 1000 butir durian yang dipanen. Pada pada panen pertama memang hasilnya belum maksimal secara kuantitas, namun pada panen selanjutnya sudah mulai meningkat.

Jika sudah masuk usia produktif durian madu dan racun, serta mampu memberikan pupuk organik dan pencegahan hama sesuai standar yang ditetapkan secara penelitian bisa menghasilkan 1000 butir lebih buah durian per batangnya.

Kalau untuk ukuran durian madu racun ini memang besar beratnya antara 10 hingga 15 kg itulah ciri khas durian solok, Cuma baru dikembangkan sekarang, padahal tidak kalah oleh durian lainnya,” sebutnya.

Ia menjual durian di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu. Untuk penjualan ada di beberapa kedai, tauke, serta ada juga individu langsung mendatangi kebunnya. Bahkan ada yang memesan beberapa minggu sebelum musim panen datang. Dijelaskannya, di tingkat pedagang, durian itu dujual seharga Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, tergantung ukuran.

Bebrbeda dengan anjung yang sudah mengelola durian secara profesional dikawasan Ix koto sungailasi yang juga terkenal dengan duriannya. Masih banyak petani yang mengelola durian secara tradisional, dalam artian belum terlalu mempraktikkan hasil-hasil penelitian oleh badan terkait.

Di Prioritaskan Jadi Komoditi Unggulan

Kepala dinas pertanian solok mengungkapkan keberadaan durian  solok ini sama persis dengan kondisi kopi solok sebelum menjadi viral seperti sekarang. Ia menambahkan kopi juga banyak yang menganggap hanya tanaman sampingan, sekarang setelah dikembangkan, malah bisa jadi seumber perekonomian utama.

Pihaknya akan mengusahakan agar hal itu juga berlaku pada durian terutama bagi kawasan dataran rendah solok. Potensi durian sudah sejak lama ada di solok, namun belum tergerak secara maksimal dan kami sudah mulai bekerja sama dengan balitbu tropika sumani menjadikan durian sebagai komoditi yang akan dikembangkan selanjutnya.

Sejak dulu durian di kabupaten solok kususnya sungailasi, singkarak,selayo dan aripan sudah terkenal dengan durian dengan berukuran besar dan berbobot berat. Namun pengelolaan yang masih tradisional banyak yang menyepelekan kelebihan tersebut sehingga tak banyak yang tahu bahwa durian dengan kualitas yang bagus juga berasal dari solok.

Untuk itu saat ini sangat perlu untuk meningkatkan perkembangan ekonomi masyarakat petani, melalui tanaman unggul dengan hasil produksi maksimal, untuk memberikan keuntungan lebih, apalagi komoditi unggulan solok sudah banyak.

Sangat disayangkan potensi ini tidak dikembangkan dari dulu, saat ini pertanian merupakan prioritas, dan komoditi-komoditi yang potensial akan kami kembangkan secara serius,” tukasnya.

#padangekpres20,9,22  

      

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...