-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Menyatunya Dua Kerajaan Sejarah Seni Dendang Bengkulu Selatan

Seni dendang bengkulu selatan, warisan budaya yang biasa dikenal dengan istilah bedendang dalam konteks masyarakat serawai di provinsi bengkulu. Keberadaannya dimasa sekarang menuntut perhatian lebih. Apalagi bila merujuk skema pengembangan serta pemanfaatan yang diamanatkan undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

Menilik sejarah seni dendang tersebutlah dimasa lampau raja kerajaan mangku bumi dan raja kerajaan mangku jagat, masing-masingnya mempunyai seorang anak. Raja mangku bumi mempunyai seorang putra sedangkan raja mangku jagat mempunyai seorang putri.

Kedua anak raja memadu kasihserta berniat melanjutkan hubungan menuju mahligai perkawinan. Raja mangku bumi mengambil inisiatif datang ke kerajaan mangku jagad serta menerangkan niat putranya mempersunting sang putri.

Penguasa dua kerajaan pun berpadu-padan serta diaturlah hari baik bulan baik guna menikahkan putra-putri mereka.

Pesta perkawinan berlangsung meriah sekaligus menjadi momen yang mencatatkan bersatunya dua kerajaan. Seluruh rangkaian kegiatan dalam pesta perkawinan kemudian ditetapkan sebagai rujukan bagi pelaksanaan upacara perkawinan masyarakat serawai.

Upacara perkawinan sesudah itu seolah memperingati kemeriahan perkawinan putra raja mangku bumi dengan putri raja mangku jagad. Adat perkawinan disepakati didalamnya terdapat formulasi penampilan seni dendang yang sarat dengan kearifan lokal masyarakat serawai.

Sejarah seni bendang bengkulu selatan dapat pula dirunut dari wejangan nenek moyang masyarakat serawai. Munculnya seni dendang dimaksudkan sebagai media mengekpresikan perasaan dalam susunan kalimat berirama yang kemudian digubah kedalam bentuk pantun.

Oleh masyarakat pemakainya dikemaslah pantun berirama itu dalam suatu penampilan yang diiringi dengan rebana, gendang panjang, biola, kain panjang, sapu tangan, piring, cincin, selendang, tayung, serunai, lengguai/sekapur sirih, pakaian seragam dan pengeras suara.

Dendangan pantun berirama yang diperkaya dengan bunyi nada yang dihasilkan oleh ragam peralatan tersebutlah yang disebut seni dendang.

Seni dendang adalah sastra lisan yang berfungsi sebagai hiburan serta biasa ditampilkan pada berbagai bentuk upacara adat. Seperti upacara memotong rambut bayi, upacara sunah rasul, upacara mendiami rumah baru dan upacara adat perkawinan.

Berkaitan dengan itu, Atmazaki (2005) menulis bahwa sastra lisan memiliki bentuk yang beragam, diantara nya berbentuk prosa naratif, berbentuk puisi (nyanyian rakyat) dan berbentuk prosa liris.

Dari segi penciptaan meskipun dianggap anonim, besar kemungkinan menghilangnya pencipta sastra lisan disebabkan oleh adanya upaya pencarian kreasi masyarakat lama dan dinggap sebagai milik bersama.

Selanjutnya dari segi pewarisan sastra lisan biasanya diwariskan kepada orang-orang tertentu. Tidak semua orang boleh mewarisi sastra lisan, terutama yang berhubungan dengan kepercayaan atau mistik kemudian berkait dengan status sosial orang menyampaikan.

Ada penyampai lisan berstatus tinggi seperti pemangku adat, namun ada pula yang berstatus sosial rendah. Terakhir di segi fungsinya sastra lisan memiliki banyak fungsi, diantaranya untuk mengukuhkan solidaritas serta menyegarkan pikiran dan perasaan.

Penampilan seni dendang pada upacara adat perkawinan dikategorikan menjadi dua macam. Pertama bedendang nunggu buah masak (berdendang menunggu buah masak) penampilan bedendang nunggu buah masak dimulai dari dendang beledang serta berakhir dengan dendang rampai.

Tanda berhentinya dendang dilihat dari jenis tari yang dibawakan. Biasanya sebatas tari redok. Apabila penampil dan khalayak telah menyantap juadah maka berakhirlah penampilan bedendang nunggu buah masak.

Kedua bedendang mutus tari (berdendang memutus tari). Penampilan bedendang memutus tari juga dimulai dengan dendang beledang serta diakhiri dengan dendang rampai. Namun sebagai bukti telah memutus tari penampilan dendang harus ditutup dengan membawakan tari rendai.

Biasanya juga diawali dengan tari kain panjang, tari keredok, rendai serta ditutup dengan tari mengempatkan.

Selesainya penampilan dibuktikan dengan menatingkan jambar ke tengah lingkaran duduk penampil. Pada masa lampau jambar dianggap sebagai denda karena telah membawakan tari kain panjang dan tari kerendai. Kedua jenis tari ini dianggap sebagai tari besar.

Penampilan senui dendang dimulai dengan dendang beledang bersama pasangnnya tari lemas. Selanjutnya penampilan dendang lagu dua dengan pasangannya tari saputangan. Kemudian penampilan dendang kuyang mandi dengan pasangannya tari piring.

Setelah nya penampilan dendang ketapang tari mabuk, tari mainang, tari pulau pinang dan tari mengempatkan. Setelahnya secara runtut, penampilan dendang teraja dengan pasangannya tari redok dan tari gendang, penampilan dendang mambang, penampilan dendang rampai dengan tari kain panjang. Penampilan dendang mati dibunuh dengan pasangannya tari tendai dan tari mengempatkan serta penampilan talibun sebagai penutup.

tari rendai
Penampilan seni dendang juga menyertakan ketentuan adat yang bersifat mengikat, sekaligus menjadi bukti pemertahanan kearifan lokal masyarakatnya hingga masa sekarang.

Pertama mengikat tua kerja. Yaitu keharusan untuk menghadap kepala adat dengan tujuan memohon ijin karena ada menampilkan seni dendang.

Selanjutnya mengikat kepala adat. Yaitu pemberian izin menampilkan seni dendang dapat dilakukan setelah terpenuhinya berbagai persyaratan. Kemudian bersifat mengikat penampil seni dendang, diaman istirahat penampil hanya bisa dilakukansetelah menampilkan dendang kuyang mandi yang diiringi tari piring.

Bersifat mengikat pasangan pengantin, yaitu dihadirkannya pasangan pengantin ditengah penampil sebelum ditampilkannya dendang rampai. Biasanya setelah beristirahat pengantin perempuan akan dibawa kembali kedalam kamar, sementara pengantin laki-laki tetap menunggu sampai ditampilkannya tari ngantak rentak pengantin. Pengantin laki-laki bahkan diharuskan terlibat dalam penampilan tari ngantak rentak bersama empat orang penari lain.

Tari ngantak rentak pengantin disebut juga dengan tari mengempatkan. Setelah menampilkannya tua kerja akan menghadap kepala adat serta melaporkan bahwa acara telah selesai sembari menyerahkan jambar sebagai sanksi adat.

Penyerahan jambar menjadi tanda telah tuntasnya pekerjaan yang diamanatkan. Sejatinya jambar itu bukan untuk kepala adat karena pada akhirnya akan diserahkan kepada tua kerja untuk dibagi-bagikan kepada semua yang hadir.

Demikianlah kearifan lokal yang terus terwariskan. Setelah semua jambar dibagikan maka berakhirlah semua rangkaian penampilan seni dendang.

#padangekspres4,9,22

 

 

    

Share This Article :
1745663973787222366

Memahami Arti Nama Perkalian 2x11 Enam Lingkung di Kecamatan Padang Pariaman

Piamanexplore- Nama daerah di Indonesia tentu beraneka ragam. Penamaannya seringkali berdasarkan sejarah, adat, budaya, atau ciri khas wilay...