-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Tradisi Turun Mandi Anak Harapan Baru Sebuah Keluarga Di Minangkabau

 

foto youresky92
Salah satu masa yang paling menggembirakan bagi sebuah keluarga adalah kehadiran anggota keluarga baru. Seluruh keluarga bersuka cita penuh harapan. 

Berharap bayi yang baru lahir akan tumbuh sehat dan kelak menjadi generasi penerus dan membanggakan keluarga. Harapan tidak hanya untuk kebaikan keluarga semata namun juga untuk masyarakat dan bangsa.

Kegembiraan dan rasa syukur atas kehadiran anggota keluarga baru secara tradisi bagi masyarakat Minangkabau di wujudkan denagn erbagai perayaan.

Perayaan tersebut antara satu nagari dan nagari lainnya mempunyai ke khasan masing-masing. Salah satu bentuk kegembiraan dan rasa syukur tersebut dengan melaksanakan tradisi turun mandi anak. Tata caranya sesuai ketentuan adat salingka nagari masing-masing

Tulisan ini mendeskripsikan tradisi turun mandi anak di nagari simalonggang di kabupaten lima puluh kota. Nagari tersebut secara administratif sebelah utara berbatas dengan nagari koto tangah simalonggang, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan sungai durian, sebelah barat berbatas dengan nagari koto baru simalonggang dan sebelah timur berbatas dengan talawi koto nan gadang.

Bila merujuk ke sejarah, wilayah nagari simalonggang tuo lebih luas, terdiri dari enam koto diluar yaitu taeh dengan simalonggang, piobang dengan sungai baringin, gurun dengan lubuk batingkok, sepuluh koto didalam yaitu tiga di baruah, tigo di sudut, tiga di atas, sepuluh dengan koto pudiang.

Karena pada masa lalu nagari-nagari tersebut satu, maka pelaksanaan tradisi turun mandianak mempunyai banyak kesamaan.

Tradisi turun mandi anak dilaksanakan pada saat bayi berumur tujuh atau 14 hari. Waktu pelaksanaannya merupakan kesepakatan antara pihak keluarga ibu dan keluarga ayah (bako). 

Pada hari yang sudah di sepakati pihak bako datang membawa perlengkapan bayi dan dulang yang berisi beras, botiah.

Rombongan bako juga membawa lapiak (tikar) yang akan di pakai saat dilaksanakan sekaligus dengan aqiqah bayi yang diturun mandikan, maka pihak bako membawa jamba aqiqah yang berisi silomak babibie satu dulang di atasnya diletakkan nasi manih ( ajik) dan paniaram satu atau tiga buah.

Pihak bako juga membawa perlengkapan untuk bayi, bila bayi yang akan di turunmandikan perempuan maka din bawakan perlengkapan untuk anak perempuan, seperti baju, cermin, sisir termasuk juga tangkuluak cuek.

Kalau bayi laki-laki di samping di bawakan kebutuhan sehari-hari, juga di bawakan alquran, buku-buku agama, kopiah dan peralatan pertukangan seperti, palu, pahat, gergaji dan peralatan lainnya.

Menariknya, bawaan pihak bako tidak hanya berupa perlengkapan yang di butuhkan bayi dalam waktu dekat, tetapi benda-benda yang beru bisa digunakan beberapa tahun kedepan oleh bayi. Seperti Alquran buku-buku agama dan alat pertukangan.

Diantara makna yang terkandung adalah harapan agar si bayi menjadi pribadi yang berpengetahuan luas baik di bidang keagamaan dan juga pengetahuan umum dan juga harapan si bayi memiliki sifat selayaknya seorang tukang yaitu merangkai, menyatukan yang terpisah-pisah sehingga menjadi suatu bangunan yang baik.

Waktu pelaksanaan Turun Mandi  

Waktu pelaksanaan turun mandi anak umumnya dilaksanakan setelah zuhur. Tikar (lapiak) yang dibawa oleh bako dibentangkan di halaman tempat akan dilaksanakan turun mandi. 

Air turun mandi di siapkan dalam baskom atau tempat mandi khusus bayi dengan perlengkapan mandi seperti handuk, sabun dan lainnya.

Air yang akan di jadikan air mandi di campur dengan berbagai jenis daun yang di yakini secara tradisional bermnafaat sebagai obat. Seperti daun sitawa, sidingin, sikumpai, cikarau, sicerek. Berbagai jenis bunga juga dimasukkan kedalam air sebagai pengharum alami.

Setelah segala sesuatu perlengkapan mandi siap, ibu si bayi menyerahkan bayinya kepada pihak bako. Umumnya yang memandikan adalah nenek atau keluarga dekat lainnya. 

Saat prosesi  memandikan berlangsung botiah yang dibawakan oleh bako di bagi-bagikan kepada anak-anak yang ikut hadir di tempat prosesi turun mandi dilangsungan.

Maksuda dari pembagian itu diharapkan agar anak yang sedang di turun mandikan menjadi anak yang pemurah dan suka berbagi dengan orang lain, tidak bersifat kikir dan pelit.

Setelah selesai di mandikan si bayi di lap dan di bedung denaghn handuk dan selanjutnya dibawa kerumah. Saat perjalanan menuju dan naik kerumah si bayi di sapo (sapa) oleh anggota keluarga yang hadir dengan nama yang telah di berikan oleh orang tua bayi.

Prosesi menyapa itu dimaksudkan sebagai perkenalan nama bayi kepada orang yang hadir dan juga perwujudan penyambutan dan selamat datang kepada anggota keluarga baru. 

Selanjutnya si bayi di pakaikan baju yang dibawa oleh pihak bako. Apabila si bayi sekaligus di aqiqahkan, maka dilakukan pemotongan rambut sebagai menjalankan sunnah Rasulullah.

Tradisi Balecong

Pada kegiatan turun mandi juga dilaksanakan tradisi balecong, yaitu tradisi mengoleskan beberapa jenis makanan ke bibir bayi.

Makanan yang biasanya di gunakan untuk balecong adalah dadiah (fermentasi susu kerbau), satu buah telur rebus, satu keping soka niro (gula aren), satu buah cabe mera. 

Semua makanan tersebut di lecongkan ataun di oleskan ke bibir bayi satu persatu.

Saat melecongkan makanan yang enak dan manis maka di lontarkan harapan dan doa agar anak tersebut menjadi anak yang manis mulutnya, baik tutur katanya. 

Saat di lecongkan cabe pedas di harapkan si bayi tidak bermulut kasar dan bertutur kata yang dapat menyakiti hati orang lain.

Dan juga tidak suka meminta sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang tuanya. Tradisi balecong ini secara simbolik juga dimaknai sebagai memperkenalkan berbagai dinamika kehidupan yang akan dilalui semasa hidup di dunia.

Tradisi turun mandi anak sampai saat ini masih sering dilaksanakan oleh masyarakat nagari simalonggang terutama untuk kelahiran anak pertama. 

Untuk anak kedua dan seterusnya sudah jarang di laksanakan. Dalam pelaksanaanya terjadi pergeseran dan penyederhanaan kegiatan karena berbagai alasan.

foto yhona shari
#Tradisi Budaya Minang

 

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...