-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Kuliner Minang Di Era Sosial Media Marketing

foto ilustrasi rakik sala pariaman
Ratni Prima Lita: Guru Besar Manajemen Pemasaran FEB Unand

Piamanexplore-Aneka ragam jajanan khas Sumatera Barat (masakan padang Atau kuliner Minang) dengan ke enakan rasanya, masih menjadi prima dona bagi konsumen dalam negeri maupun mancanegara. Mesko pandemi covid-19 turut mempengaruhi prilaku konsumen, permintaan terhadap kuliner Minang secara natural turut mencari jalannya sendiri. Tingkat kepercayaan konsumen pada suatu produk berkaitan erat pada niat beli. Kepercayaan itupun sebagian memediasi hubungan antara pemasaran media sosial dan niat beli konsumen.

Hal ini tercermin dalam penelitian kami baru-baru ini dengan melibatkan 210 responden, kami menyelidiki pengaruh pemasaran media sosial terhadap kepercaayaan konsumen dan niat beli konsumen untuk membeli makanan secara online di sumatera barat.

Penelitian ini juga menguji pengaruh kepercayaan konsumen sebagai variabel mediasi antara pemasaran media sosial dan niat beli konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh signifikan pemasaran media sosial terhadap kepercayaan konsumen dan niat beli konsumen, serta kepercayaan konsumen berpengaruh signifikan terhadap niat beli konsumen mereka. Akhirnya, penelitian ini berkontribusi untuk mendorong penggunaan pemasaran media sosial untuk bisnis makanan lokal Indonesia.

Penelitian ini menguatkan beberapa penelitian serupa yang dilakukan manzoor dan kawan-kawan, sanny dan kawan-kawan serta puspaningrum (2020). Kepercayaan konsumen dapat terjadi melalui mediasi sosial karena adanya komunikasi yang terbentuk akan meningkatkan partisipasi dan pengalaman yang dirasakan oleh konsumen itu sendiri. Melalui pemasaran media sosial dapat menjangkau konsumen yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat.

Sosial media marketing juga sebagai alat untuk perusahaan agar dapat berkomunikasi dengan konsumen yang dengan hal tersebut dapat mengetahui kebutuhan konsumen yang berdampak terhadap kepercayaan konsumen itu sendiri.

Kemudian penelitian dari Gautam dan sharma (2017) serta Laksamana (2018) juga menyatakan sosial media marketing berpengaruh signifikan terhadap konsumer purchase intention. Dimana media sosial sebagai wadah pemasaran untuk komunikasi kepada yang dapat menimbulkan minat beli luxury fashion brands karena merupakan barang bernilai tinggi sehingga perlu menarik perhatian konsumen.

Melalui pemasaran media sosial akan memberi kontribusi untuk meningkatkan profits dan pertumbuhan luxury fashion brands dimana dalam penelitian ini mengungkapkan akan menarik perhatian dari konsumen baru.

Begitu pula riset yang dilakukan oleh Moslehpour, Dadvari, Nungroho dan Do (2021) menyatakan konsumer trust berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumer puschase intention pada pembelian produk skincare pria, kepercayaan yang ditimbulkan oleh promosi berdampak pada konsumen pria berminat untuk mebeli produk skincare.

Kepercayaan konmsumen membuat mereka secara sukarela untuk berminat terhadap produk yang menarik minat mereka. Satu benang merah dapat diraih, bahwasanya di era digital banyak cara yang bisa dilakukan oleh UMKM yang bergerak di sektor kuliner. Salah satunya dengan pemasaran media sosial atau yang seringkali dis ebut social media marketing.

Metode ini menjadikan komunikasi pemasaran dilakukan melalui aplikasi digital, platform, dan media yang akan memfasilitasi interaksi, kolaborasi, serta berbagai konten diantara pengguna. Sosial media marketing yang dilakukan secara online memudahkan UMKM untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Lima dimensi pemasarn media yaitu intertainment, customisation, interaction, e-WOM, dan trendiness seharusnya bisa menopang industri kuliner Minang menjadi naik kelas. Perspektif hedonis, kata manthiou dan kawan-kawan (2013), memandang pengguna media sosial sebagai pencari kesengan dan intertainment.

Sejalan dengan itu, pengguna social media mengonsumsi konten kemudian membagikan sesuatu yang menghibur, dan mendorong rasa suka dengan membagikan ke banyak individu, sehingga memberikan keuntungan dari pelaku UMKM. Keunggulan dimensi kustomisasi yang dimiliki pemasaran media sosial membuat pegiat kuliner Minang dapat menyajikan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Berbeda dengan saluran komunikasi massa tradisional, media sosial memfasilitasi interaksi, berbagi konten, dan kolaborasi bisnis dengan pelanggan. Interaksi sosial mempertegas bahwa pelanggan berkontribusi terhadap media sosial perusahaan, sehingga mereka dapat bertemu dan berdiskusi dengan pelanggan yang berpikiran sama mengenai berbagai produk di situs e-commerce. Media sosial juga dapat menjadi ruang percakapan yang bermanfaat dan berbagi ide-ide penting.

Jika dulu metode pemasaran dari mulut ke mulut terbukti ampuh meningkatkan keprcayaan pelanggan pada cita rasa kuliner Minang hingga melegenda sampai ke mancanegara, tren itu kini makin diperkuat dengan dimensi elektronik. Media sosial mempercepat pemasaran digital dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya.

Cakupannya yang tanpa batas, menjaduikan komentar-komentar positif sebagai suatu energi yang terbarukan. Produk yang viral dimedia sosial, berkat word of mouth elektronik (e-WOM) semakin menambah tingkat kepercayaan konsumen dan memacu niat beli mereka.

Hal ini diperkuat lagi dengan maraknya penggunaan influencer dan publik figur untuk mencicipi makanan, kemudian menjadi viral, dan menambah pasar yang lebih luas. Pelaku UMKM tidak perlu bersusah payah untuk menjajakan kuliner mereka ke banyak pengguna media sosial, malainkan metode e-WOM akan menjalar dengan sendirinya antara konsumen ke konsumen secara online.

Kekuatan ini sejalan dengan dimensi trending yang dimiliki media sosial. Produk kuliner yang saat ini menjadi trending dan populer di media sosial, akan meningkatkan trust dan mendorong niat beli konsumen lebih cepat.

Tentunya potensi ini semakin menuntut pelaku UMKM untuk kreatif dan inovatif. Pemasran media sosial membutuhkan aktifitas memperkenalkan informasi terkini, ulasan produk, dan gagasan baru tentang merek pada konsumen.         

Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...