-->
NGx9MGB7Nap6Nax5MaRbNqN7MmMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Sejarah Mandeh Siti Manggopoh Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Ibu

tugu siti manggopoh
Di kutip dari: Dan Nano

Piamanexplore-Setiap melewati Simpang gudang yang berada dalam kawasan kabupaten Agam ini, saya takkan pernah lupa untuk memalingkan wajah menatap kekokohan sebuah monumen patung wanita yg tengah mengangkat pedangnya seolah mengintruksikan untuk menyerang para penjajah.

Ada nuansa tersendiri apabila melihat monomen ini, jiwa Nasionalisme seolah hadir  menggebu, hadir semua history catatan sejarah tentang mandeh siti yg memang sudah lama tersimpan di memori saya.

Mandeh Siti manggopoh adalah sosok wanita yang luar biasa. Diantara peranannya sebagai seorang pemimpin perang belasting juga tak melupakan peranan wajibnya sebagai seorang ibu yang menyusui balitanya dan juga sebagai seorang istri yang harus mendampingi suaminya, membayangkan hal ini ada perasaan kagum.

Namun tak banyak juga yg mengenal perjuangan beliau, bahkan bagi sebagian besar generasi muda kabupaten Agam sendiri. Namanya memang tak seharum RA. Kartini, Cut Nyak Dhien, dan pahlawan wanita yang lain.

Sejarah perjuangannya memang tak di tulis di buku² sejarah di sekolahan, tapi pengorbanan dan perjuangan mandeh siti tak semestinya di lupakan begitu saja. Saya yang di lahirkan di kabupaten padang pariaman, sebagai generasi pencinta sejarah.

Setiap melihat monumen mandeh siti, hati saya sering merasa bangga dan trenyuh membayangkan perjuangan seorang ibu yg mempunyai anak masih balita dan menyusui, memimpin sebuah perang dalam melawan penjajah, memang luar biasa.

Siti lahir pada 15 Juni 1881 (namun ada juga yang menyebutkan kelahiran Mei 1880) di Manggopoh, sebuah desa kecil dan terpencil di wilayah Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Karena lahir di Manggopoh, Maka lebih dikenal dengan nama Siti Manggopoh.

Mandeh Siti adalah anak bungsu dari enam bersaudara dan merupakan anak perempuan pertama sekaligus terakhir dalam keluarga. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah umum karena waktu itu di desanya belum ada sekolah.

Ia sering ikut kegiatan mengaji bersama kelima kakak laki-lakinya. Mandeh Siti juga sering ikut ke gelanggang persilatan. Mungkin inilah yang menyebabkan Mandeh Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajahan Belanda di daerahnya sehingga ia diberi julukan Singa Betina dari Manggopoh.

Dalam buku Perempuan-perempuan Pengukir Sejarah, Mulyono Atmosiswartoputra diceritakan awal mula kemarahan Mande Siti, ketika ia tahu Peraturan Pajak di tanah Minangkabau pada awal Maret 1908, diganti menjadi Peraturan Tanam Paksa terhadap rakyat.

Mande Siti tersulut amarah sebab merasa harga dirinya diinjak-injak, mengingat peraturan belasting ini mengenakan pajak tanah yang dimiliki secara turun-temurun.

Alhasil, pemberontakan rakyat yang dimulai dari Kamang hingga akhirnya merambah ke Manggopoh, membuat Siti bersama dengan pemuda militan dari Manggopoh, membentuk badan perjuangan yang terdiri dari 14 orang.

Mereka adalah Rasyid (suami Siti), Siti, Majo Ali, St. Marajo Dullah, Tabat, Dukap Marah Sulaiman, Sidi Marah Kalik, Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik, Tabuh St. Mangkuto, Sain St. Malik, Rahman Sidi Rajo, dan Kana.

Akhirnya pada 16 Juni 1908 meletuslah Perang Manggopoh bersamaan dengan Perang Kamang yang dikenal juga dengan Perang Belasting.

Setidaknya, tercatat dalam sejarah, kalau Mande Siti berperang dua kali dengan Belanda. Pertama, Kamis malam, 15 Juni 1908, titik inilah perjuangan dimulai.

Siti disebut menjadikan dirinya sebagai umpan, dan menyusup ke markas Belanda yang saat itu bikin perjamuan.

makam pahlawan siti manggopoh
Setelah berhasil menyusup, Siti memadamkan lampu dan memberi tanda kepada para pejuang yang sudah siaga di luar. Mereka pun langsung menyerbu sesudah diperintah dari dalam.

Pertarungan para pejuang dan Belanda pun terjadi dalam kegelapan. Siti membunuh puluhan tentara Belanda. Sementara pejuang lain juga.

Dalam serangan gelap itu, para pejuang, yang tidak satupun gugur, berhasil membunuh 53 dari 55 serdadu Belanda. Dua yang selamat berhasil kabur ke Lubuk Basung walaupun dengan luka serius di sekujur tubuhnya.

Perang kedua terjadi saat dua antek Belanda yang berhasil kabur itu, meminta bantuan tentara dari Bukittinggi dan Padang Pariaman. Insiden itu terjadi pada 16 Juni 1908. Mereka sengaja memporak-porandakan Manggopoh untuk balas dendam. Tak sedikit warga yang menjadi korban kemurkaannya.

Peperangan ini menewaskan seluruh pejuang yang melawan pada saat itu. Ada yang mengatakan pejuang saat itu hanya 5 orang (Tuanku Cik Padang, Tabat, Sidi Marah Khalik, Muhammad, dan Kana), namun ada juga yang mengatakan 3 orang (Tuanku Cik Padang, Kana, dan Unik).

Siti Manggopoh yang mendengar daerahnya diobrak-abrik Belanda, akhirnya mengambil keputusan untuk tetap ikut berperang. Padahal, ia punya anak, yang terpaksa harus ditinggal. Namanya Dalima.

Setelah melakukan penyerangan, Siti Manggopoh pulang ke rumah dan membawa kabur Dalima ke hutan. Di dalam hutan, Siti Manggopoh merawat anaknya. Namun malang, tentara Belanda kemudian menangkapnya dan membawanya ke Lubuk Basung, Agam.

Tahun 1963, panitia peringatan Hari Kartini di Kota Padang mengundang Mande Siti untuk bercerita. Saat itu umurnya 78 tahun. Dia sudah rabun, namun tak pikun. Dia mengurai detail saat-saat setelah penyerbuan benteng Belanda.

"Dalam keadaan terluka saya langsung pulang ke rumah orangtua. Kedua anak, saya titipkan di sana. Dalima yang masih bayi langsung saya susui. Si Yaman, anak laki-laki saya langsung merebahkan kepalanya di paha saya. Dia minta dibelai," kenangnya.

Lebih lanjut, Siti bercerita datang seorang nelayan yang mengaku bernama Saibun. "Saya diminta Rasyid untuk menjemput Mande Siti," bisik nelayan itu. Siti membawa Dalima. Mereka naik perahu ke sebuah tempat di mana Rasyid sedang menunggu.

"Dalam keadaan diburu tak baik berlama-lama di sebuah tempat. Kami memutuskan berjalan kemanapun tanpa tujuan, yang penting selamat," urai Mande Siti di hadapan hadirin peringatan Hari Kartini. Penuturan Mande Siti ini dikutip beberapa surat kabar saat itu. Ada juga yang menuliskannya hanya untuk sekadar dokumentasi.

Perjalanan terhenti ketika mereka jumpa seorang peladang tua. Pak Tua itu baik sekali. Selain tumpangan untuk sembunyi, dia memberi makan dan minum untuk Siti, Rasyid dan Dalima. Tidak hanya itu, Pak Tua juga mengobati luka tembak Siti dan Rasyid.

"Dari Pak Tua itu kami mendapat cerita bahwa kami berdua orang yang paling dicari. Karena tak jua ditemukan Belanda murka dan Manggopoh dibumihanguskan. Rakyat tak bersalah ditangkapi, disiksa dan dibunuh.

Tak tega melihat rakyat Manggopoh menderita, kami memutuskan keluar dari persembunyian. Menyerahkan diri dengan syarat tak ada lagi rakyat yang disakiti," Siti memutar kembali ingatannya.

Siti saat itu ditangkap lalu dipenjarakan secara terpisah. Adapun suaminya Rasyid, dibuang ke Manado.

Saat ditangkap, di Lubuk Basung, Siti Manggopoh dipenjara selama 14 bulan, lalu dibawa ke penjara di Pariaman. Di sini, Siti mendekam selama 16 bulan.

Ia kemudian dipindahkan ke penjara Kota Padang selama 12 bulan, dan akhirnya dibebaskan oleh Belanda dengan alasan anaknya masih kecil.

Mande Siti meninggal 20 Agustus 1965.


Share This Article :
1745663973787222366

Asal-Usul Kata Pariwisata Di Indonesia: Menelusuri Sejarah Industri Perjalanan

Piamanexplore- Sekitar awal dasawarsa 1960 an menteri pendidikan dan kebudayaan Dr. Prijono menciptakan kata pariwisata . M enurut kata s...